Thursday, October 28, 2021
Home Inspirasi Cerpen ‘Ushfuriyah: Hikayat Mencitai Orang-Orang Sholih

‘Ushfuriyah: Hikayat Mencitai Orang-Orang Sholih

Oleh: Ust. Musta’in MH.

Ada satu hikayat terjadi di zaman Nabi Musa AS. Tentang seorang laki-laki yang meninggal dunia dan di masa hidupnya terkenal akan kefasikannya. Sampai di waktu kematiannya, masyarakat enggan untuk mengurusi mayat tersebut, dan akhirnya hanya asal di buang dan dibiarkan tepat di bawah kandang yang berlumuran kotoran sapi.
Pada saat itu, nabi Musa AS. mendapat wahyu dari Allah tentang kabar seorang mayit yang tergeletak dibawah kendang sapi.
“Wahai Musa, ada seorang laki-laki meninggal di bawah kendang sapi. Masyarakatnya enggan mengurusinya, pergilah kamu untuk memandikannya, mengkafani, menyolati dan menguburnya”.

Seketika itu, nabi Musa langsung mencari kabar tentang mayat tersebut. Seseorang menjawab: “Di sana, memang ada seorang mayat laki-laki dengan sifatnya yang buruk, berbuat dosa secara terang-terangan dan masih banyak keburukan lainnya yang sudah diketahui banyak orang”.

Nabi Musa kembali menyakan keberadaan mayat tersebut, diceritakan pula olehnya bahwa: “Allah SWT memberi wahyu kepadaku terhadap hal ini, beritahulah kepadaku tentang keberadaan mayat itu sekarang”. Lantas mereka pergi mengantarkan nabi ke kendang sapi.

Setibanya di lokasi, nabi Musa bermunajat kepada Allah SWT. “Wahai Tuhanku, Engkau memerintahkanku untuk menyolati dan menguburnya. Sedangkan masyarakat disekitarnya menyaksikan bahwa mayat tersebut diketahui kefasikannya oleh orang banyak, namun sesungguhnya Engkau maha mengetahui daripada mereka tentang kebaikan dan keburukan seorang mayit tersebut”.

Usai bermunajat, Nabi mendapat wahyu kembali akan hal itu. “Wahai Musa, sesungguhnya yang disaksikan masyarakat itu memang benar. Namun pada saat hendak meninggal, ia meminta pertolongan kepada-Ku tentang tiga hal yaitu, pertama ia berkata: Tuhanku, engkau mengetahui sesunggungnya pada saat diriku melakukan maksiat, dalam hatiku membencinya karena hawa nafsu, teman yang buruk, dan iblis laknatullah. Dengan ketiga hal ini yang telah menjatuhkan saya kedalam maksiat.”

Kedua, ia meminta pertolongan seraya mengatakan: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya engkau mengetahui pada saat diriku melakukan maksiat, tempatku Bersama orang-orang fasik. Namun engkau mengatahui bahwa, diriku lebih menyukai duduk Bersama orang-orang sholih.”

Dan yang ke tiga: “Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui bahwa orang-orang sholih itu lebih aku cintai daripada orang-orang fasik. Sehingga jika datang kepadaku dua orang terdiri dari orang sholih dan orang fasik, maka saya mendahulukan hajatnya orang sholih daripada orang fasiq.”

Dalam Riwayat Wahab bin Munabbah, orang tersebut mengatakan: “Wahai Tuhanku, seandainya Engkau menganpuni dan memaafkan dosa-dosaku, maka akan bahagia para kekasih-Mu dan akan sedihlah para syetan yang menjadi musuh-Mu. Namun jika Engkau menyiksaku dengan sebab dosa-dosaku, maka bahagialah syetan dan sedihlah para nabi, wali dan semua yang menjadi kekasih-Mu. Dari semua itu, aku tau Engkau lebih menyukai kebahagiaan kekasih-Mu daripada syetan, maka ampunilah aku wahai Tuhanku. Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui dari pada diriku.”

Sampai di akhir kehidupannya, Allah SWT berfirman: ”Aku menyayanginya dan mengampuni dosa-dosanya, sesungguhnya Aku maha pengasih lagi pemaaf terhadap orang yang mengakui dosa-dosanya dihadapan-Ku.”

“Wahai Musa, lakukanlah apa yang Aku perintahkan. Maka Aku akan mengampuni karena kemulyaannya terhadap orang yang menyolati jenazahnya dan menghadiri penguburannya.”

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ketakdziman Kang Muslih kepada Gurunya

Dalam keadaan sakit dan tempuh perjalanan jarak jauh, tak menyurutkan semangat Kang Muslih untuk mendapatkan barokah dari gurunya.   KH Moh Muslih mondok di Pesantren Lirboyo...

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, Kang Muslih Wafat

اِنَّا لِلَّهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ Kabar duka datang dari keluarga, dewan guru, santri dan alumni pesantren PATWA. Sesepuh pesantren PATWA KH Moh Muslikh berpulang ke...

Khidmat Ikuti Acara di Penghujung Ramadhan 1442 H

Di malam ke-29 ramadan, halaman pondok Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada, dipenuhi ratusan santri yang hendak mengikuti rangkaian acara. Doa Takhtimul Kutub ngaji pasaran,...

Bergiat di Sepertiga Ramadhan

Oleh: Abdul Ghoni Dapat kita hitung bersama, Sepertiga atau 10 hari terakhir di bulan ramadhan ini merupakan pembagian dari tiga fase. Dijelaskan oleh Imam Al...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN