Tuesday, April 20, 2021
Home Inspirasi Essai Syiar dan Tradisi Drumband PATWA

Syiar dan Tradisi Drumband PATWA

Oleh: Azeez Naviel Malakian

Drumband merupakan salah satu instrumen yang menjadi magnet sebuah lembaga pendidikan. Khususnya pondok pesantren. Selain berfungsi sebagai hiburan, drumband sebagai media dakwah syiar agama. Karenanya, drumband pesantren berperan besar dalam menggaet santri untuk berduyun-duyun menimba ilmu di dalamnya.

Drumband Yayasan Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) memiliki ciri khas tersendiri dalam setiap mengadakan pertunjukan. Terutama saat melewati kompleks pemakaman yang di dalamnya terdapat makam ulama atau masyayikh, khususnya yang masih ada sanad keilmuan dengan PATWA. Salah duanya ketika melewati makam Gajah Gambung Buntet Pesantren, desa Mertapadakuolon dan Payon, desa Mertapadawetan.

Sang Pembina senantiasa mengingatkan kepada Mayoret agar berhenti sejenak, untuk mengheningkan cipta. Lalu, tangannya menadah disertai kepala menunduk. Pembina merapalkan Tawasul yang dihadiahkan untuk Rasulullah SAW, para sahabat hingga ulama setempat. Disusul suara lirih surah Al-fatihah yang dibacakan seluruh personel. Tradisi ini bermula sejak jabatan pembina digawangi oleh Sesepuh Yayasan PATWA Alm Almaghfurlah KH Burhanuddin Hafidz. Tujuannya, sebagai bentuk penghormatan dan rasa takdzim atas jasa-jasanya.

Senada, tradisi mendoakan sang guru dalam perjalanan ini pernah diajarkan oleh seorang guru sekaligus Mursyid Tarekat Habib Luthfi bin Yahya, KH Abdul Malik bin Ilyas Purwokerto. Satu waktu, tepatnya di tanggal 17 Agustus, sosok ulama karismatik itu bersama Habib Luthfi dan supirnya melakukan perjalanan ke Bantarbolang-Randudongkal . Di tengah perjalanan, beliau bertanya kepada Habib Luthfi, “Jam berapa sekarang, Bib?” Sesaat setelah melihat jam tangan yang melingkar di lengannya, ia menjawab, “Jam 09.45 WIB, Yai”. Kiai Malik pun menyuruh supir agar berhenti sejenak untuk beristirahat.

Tepat pukul 10.00 WIB –Momentum pembacaan teks proklamasi oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno-, tiba-tiba beliau mengajak Habib Luthfi dan supirnya menunduk. Lalu, beliau berdoa, mengirimkan bacaan surah Al-fatihah kepada para pahlawan yang telah syahid dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Khususnya kepada para ulama dan santri. “Kagem para guru dan orang-orang yang berjasa dalam kehidupan kita, Al-Fatihah,”.

Sebagaimana diketahui, setiap kali drumband PATWA mengadakan pertunjukan, selalu diawali dengan membaca doa bersama, yang dipimpin langsung oleh pembina. Hal ini dilakukan agar performa sepanjang acara berjalan lancar. Usai itu, suguhan lirik lagu Anatomi berkumandang, petanda acara siap berjalan. Kemudian dilanjut dengan banyak lirik lagu mars drumband PATWA. Mulai dari GW, Kaverli, hingga Dinas.

Berikut dokumentasi foto kegiatan Drumband PATWA:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ini Jadwal Pemakaman Almarhumah Nyai Hj Umi Salamah

اِنَّا لِلَّهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ Kabar duka datang dari Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada Kulon. Sesepuh PATWA Nyai Hj Umi Salamah pada hari jum’at (2/3/21),...

Pak Hariri, Guru Humoris yang Hobi Berbagi Permen

Oleh: Azeez Naviel Malakian Berbaju batik, berkacamata tebal, dan berpeci hitam. Begitu penampilan yang biasa diterapkan Alm Ust Muhammad Hariri kala mendidik para siswanya. Beliau...

Syiar dan Tradisi Drumband PATWA

Oleh: Azeez Naviel Malakian Drumband merupakan salah satu instrumen yang menjadi magnet sebuah lembaga pendidikan. Khususnya pondok pesantren. Selain berfungsi sebagai hiburan, drumband sebagai media...

Khotmil Qur’an Yayasan PATWA 2021 Bakal Digelar Bulan Depan

Sore itu, Kamis (14/1/2021), ruangan Musholla ‘Langgar’ Yayasan PATWA tampak ramai. Puluhan Wali Santri dan Dewan Guru menggelar rapat bersama tentang pelaksanaan Tasyakkur Khotmil...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN