Wednesday, June 16, 2021
Home Dawuh Rabiul Awal Momentum Meneladani Sifat Rasulullah dalam Mendidik Anak

Rabiul Awal Momentum Meneladani Sifat Rasulullah dalam Mendidik Anak


Bulan Rabiul Awal merupakan bulan yang sangat istimewa. Sebab, pada hari Senin 12 Rabiul Awal  576 M, baginda Nabi Muhammad SAW dilahirkan dari pasangan Sayyid Abdullah dan Sayidah Siti Aminah Radliya Allahu ‘Anhuma.

Nabi Muhammad SAW memang sudah sepatutnya menjadi suri tauladan. Hal itu tak lepas dari akhlak mulia dan terpuji beliau.

Pada Rabiul Awal atau bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW kali ini Sesepuh Yayasan Pesantren Attarbiyyatul Wathoniyah (PATWA), KH Ashomuddin mengatakan, teladan Nabi Muhammad SAW harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesempatan itu beliau ungkapkan saat ditemui Tim Media Center PATWA dalam persiapan acara Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1442 H yang diselenggarakan Yayasan PATWA.

“Peringatan Maulid Nabi ini untuk mengingatkan kita kepada sejarah Rasulullah, betapa agungnya Rasulullah dan juga betapa suri tauladannya Rasulullah dalam berbagai macam segi kehidupan”, ujarnya.

Salah satunya adalah dalam kehidupan berkeluarga, terutama tata cara Rasulullah dalam mendidik anak-anak dan umatnya.

Keteladan Rasulullah dalam Mendidik Anak

Pada umumnya, cara Rasulullah dalam mendidik anak-anak dan umatnya berbeda dengan masyarakat zaman sekarang. Di zaman Rasulullah belum ada internet. Sehingga, tidak bisa belajar tentang pendidikan anak melalui perangkat teknologi

“Rasulullah mendidik anak dituntun oleh malaikat dan Gusti Allah”, katanya.

Lantas, sesederhana inikah Rasulullah dalam mendidik anak-anak dan umatnya? Tentu tidak. Sebab, kata Kang Ashom, Suri tauladan Rasulullah mudah untuk dipelajari, walaupun sulit untuk ditiru. Hal itu dikarenakan belum terkontaminasi dengan kehidupan zaman sekarang. Selain itu, Rasulullah termasuk manusia yang memiliki sifat Maksum.

Lalu, apa saja keteladanan Rasulullah dalam mendidik anak-anak dan umatnya?­ Kang Ashom menjelaskan, gambaran Rasulullah dalam mendidik anak dapat dilihat dari segi kehidupan, akhlak, dan cara bergaul beliau. Langkah pertama Rasulullah adalah dengan mengenalkan ketauhidan atau Akidah. Rasulullah mengajarkan anak dan umatnya tentang siapa tuhannya, kepada siapa beribadah, dan siapa yang menciptakan alam semesta.

Teladan Rasulullah dalam mengenalkan akidah kepada anak-anak dan umatnya itu dapat dilihat dari beberapa hadis yang diterangkan Ibnu Abbas. Salah satunya ialah hadits yang artinya:

“Bukalah lidah-lidah anak kalian dengan pertama kali mengucap laa ilaaha illaallah.. dan bukalah lidah  saat  hendak meninggalkan dunia dengan kalimat laa ilaaha illaallah. Sesungguhnya siapa yang awal dan akhir membukakan kalimat tersebut maka dia tdak akan ditanya apa-apa oleh Allah. Tidak akan menemui siksa, hisab, tidak akan ditanya mengenai dosa”

Langkah kedua, Rasulullah mengajarkan anak-anak dan umatnya tentang bacaan doa-doa pada setiap langkah aktivitasnya. Seperti doa hendak dan setelah makan, doa hendak masuk dan keluar dari kamar mandi, doa ketika cebok dan lain-lainnya.

“Doa-doa seperti itu selalu diingatkan dan diajarkan pada setiap langkah. Dimana sekarang orang jarang mengamalkannya, karena menganggap sepele”, ujarnya.

Pada hakikatnya, lanjut Kang Ashom, Rasulullah mengajarkan doa-doa pada setiap langkah anak-anak dan ummatnya itu bukan tanpa sebab. Pasalnya, ada banyak hikmah dari bacaan doa-doanya itu.

“Seperti ketika mau masuk kamar mandi. Di kamar mandi ada banyak jin. Tapi ketika sebelum masuk dan hendak keluarnya baca doa terlebih dahulu, maka Insya Allah tidak ada setan dan jin yang mengganggu. Kalaupun ada orang jatuh saat masuk kamar mandi, itu karena sebelumnya tidak baca doa”, ungkapnya.

“Kemudian, ketika cebok membaca doa. Insya Allah terhindar dari penyakit kubul dan dubur. Jangankan penyakit berat. Penyakit anyang’an pun Insya Allah tidak akan terkena. Seperti terhindar dari susah Buang Air Besar (BAB), dan berbagai macam penyakit lainnya”

Langkah ketiga adalah Rasulullah selalu berlaku adil kepada anak-anaknya. Kang Ashom menerangkan, suatu ketika sahabat Nu’man bin Basyir menghadap kepada Rasulullah dan mengadu, “Aku telah memberikan sesuatu kepada anak laki-lakiku yang dari Amanroh binti Wakhaq. Lalu Amanroh menyuruh untuk menghadap kepada Rasulullah agar Rasulullah menyaksikannya”.

Mendengar aduan Sahabat Nu’man bin Basyir itu, Rasullah menjawabnya, dengan sebuah pertanyaan ”Apakah engkau melakukan yang sama kepada anak-anakmu yang lain?” Kemudian Nu’man bin Basyir menjawab, “Iya”. Mendengar jawaban  tersebut, Rasululullah bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil diantara anak-anakmu”.

Sontak, Sahabat Nu’man pun  langsung mencabut kembali pemberian yang sama kepada semua anaknya itu.

Dari kisah itu, kang Ashom menjelaskan bahwa tidaklah sama Rasulullah memberikan sesuatu kepada anak-anaknya. Sebab, kebutuhan anak berbeda sesuai degan usia dan aktivitasnya.

“Anak semakin besar umurnya mungkin semakin besar kebutuhannya. Kalau anak Madrasah Ibtidaiyyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) diberikan yang sama, maka itu tidak adil. Karena kebutuhannya berbeda”, jelasnya.

Langkah selanjutnya adalah Nabi Muhammad mengajarkan kepada anak-anak dan umatnya tentang akhlak mulia. Langkah tersebut dilakukan jauh sebelum nabi diutus menjadi rasul. Dalam praktiknya, Nabi Muhammad mengajarkan kepada anak-anak dan umatnya dengan cara mencontohkan.

“Sebelum Baginda Muhammad diutus menjadi Nabi, beliau telah mencontohkan kepada anak-anak dan umatnya”, ujarnya.

Karena itu, Kang Ashom mengajak kepada para orang tua untuk dapat meneladani akhlak mulia Rasullah, dengan mencontohkannya terlebih dahulu. Kang Ashom mencontoh, agar murid-murid berangkat tepat waktu, seorang guru harus berangkat lebih awal, sebelum masuk jam pelajaran. Selain itu, agar anak-anaknya dapat melaksanakan sholat shubuh berjamaah, orang tua harus bangun shubuh dan melakukan sholat berjamaah.

“Cara terbaik untuk mendidik anak atau mendidik orang lain dalam mencontohkan akhlak mulia adalah dari perilakunya diri sendiri, menjadi contoh bagi mereka yang akan dididik”

Kang Ashom menyampaikan, bahwa keberhasilan seorang murid itu tak lepas dari peran guru yang telah mencontohkannya terlebih dahulu.

“Dulu, guru-guru pada bangun malam tahajud mendoakan muridnya sehingga anak-anak didiknya pada nurut-nurut”, ungkapnya.

“Jika zaman sekarang hanya dengan kependidikan saja, label sertifikasi guru, professional, tetapi dibalik itu tidak ada upaya ikhtiyar Taqorrub Ilallah, bertahajud dan sholat hajat mendoakan siswanya, tidak mungkin akan ada hasil. Karena sertifikasi guru, professional itu buatan manusia. Sedangkan sholat tahujud dan hajat itu buatan Allah”, lanjutnya.

Kang Ashom juga mengingatkan, bahwa anak murapakan titipan Allah, yang akan menjadi generasi orang tuanya. Begitupun dengan murid, yang akan menjadi generasi penerus para gurunya. “Jadi, harus dicontohkan terlebih dahulu dari perilakunya sendiri, dan harus ada Taqorrub ilallah. itulah cara pendidikan Nabi Muhammad. Ibda’ Binafsik. Mulailah dari diri sendiri“, pungkasnya, Rabu (28/10/20).

Untuk diketahui, terang Kang Ashom, Rasulullah memiliki 7 anak yang terdiri dari 3 laki-laki dan 4 perempuan. Namun, ketiga anak laki-laki rasulullah tersebut semuanya wafat mendahului beliau.

Dari peristiwa wafatnya ketiga anak rasulullah itu, datang pertanyaan dari sahabat rasul yang berna Ibnu Mas’ud. Kepada Rasulullah, ia mempertanyakan tentang dibalik wafatnya ketiga anak rasulullah tersebut. Kemudian Rasul menjawab, “Sesungguhnya Allah Maha Tau”.

Sontak, mendengar jawaban rasul demikan, Sahabat Ibnu Mas’ud lagsung menilai “Kalau saja putra ketiga Rasul itu masih hidup sebelum Rasulullah wafat, maka salah satu diantara anak Rasulullah itu akan diagungkan dan dianggap Nabi oleh kaum muslim”

Pertama adalah Sayyid Qosim, anak sulung dari Sayyidah Siti Khadijah. Sayyid Qosim, wafat pada sekitar usia 2 tahun, dimakamkan di Ma’la, Makkah. Kemudian, anak kedua Rasulullah bernama Sayyid Abdullah. Beliau  wafat saat masih keadaan bayi.

Anak ketiganya yaitu Sayyidah Zainab. “Sayyidah Zainab pernah menikah dengan laki-laki yang belum masuk islam yaitu Abul ’Ashr. Sehingga, akhirnya suaminya memeluk agama islam. Setelah suaminya masuk islam Sayyidah Zainab menikah kembali dengan Abul ‘Ashr sesuai syariat islam”, ungkapnya.

Lanjut Kang Ashom, anak keempat Rasulullah yaitu Sayyidah Siti Ruqoyyah, dari istri Sayyidah Siti Khadijah. Kemudian anak kelimanya yaitu Ummu Qultsum, yang juga dari istri Siti Khadijah.

Sedangkan anak keenam yaitu Siti Fatimah, yang menikah dengan sahabat Ali. Terakhir, Rasulullah memiliki anak bernama Sayid Ibrahim, dari istri Siti Mariatul Qibtiyah.

 

Penulis : Abdul Mu’izz

Editor : Muhammad Abdul Ghoni

Desainer : Luthfi Burhanuddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Khidmat Ikuti Acara di Penghujung Ramadhan 1442 H

Di malam ke-29 ramadan, halaman pondok Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada, dipenuhi ratusan santri yang hendak mengikuti rangkaian acara. Doa Takhtimul Kutub ngaji pasaran,...

Bergiat di Sepertiga Ramadhan

Oleh: Abdul Ghoni Dapat kita hitung bersama, Sepertiga atau 10 hari terakhir di bulan ramadhan ini merupakan pembagian dari tiga fase. Dijelaskan oleh Imam Al...

Kaidah Mencari Lailatul Qadar

Oleh: Abdul Ghoni Sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan, menjadi sangat istimewa bagi mereka yang mendambakan malam Lailatul Qadar. Hal ini tentunya sudah banyak yang...

Fun Brewing Collaboration di Malam Ta’dzim Nuzulul Qur’an

Sejumlah Barista (Peracik Kopi) dari beberapa kedai kopi yang tergabung dalam wadah Seduh`Lur Cirebon Timur, mengadakan Fun Brewing pada Acara Malam Ta’dzim peringatan Nuzulul Quran di Pesantren...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN