Monday, September 20, 2021
Home Profile Pak Hariri, Guru Humoris yang Hobi Berbagi Permen

Pak Hariri, Guru Humoris yang Hobi Berbagi Permen

Oleh: Azeez Naviel Malakian

Berbaju batik, berkacamata tebal, dan berpeci hitam. Begitu penampilan yang biasa diterapkan Alm Ust Muhammad Hariri kala mendidik para siswanya. Beliau mengajar di Madrasah Tsanawiyah Agama Islam (MTs.AI) Mertapada, salah satu lembaga pendidikan formal dibawah naungan Yayasan PATWA.

Bagi Alumnus MTs AI yang pernah dididik olehnya, sosok Pak Hariri dikenal sebagai guru yang humoris. Beliau suka melempar joke segar kepada para siswa, terutama di waktu krusial seperti saat menjelang jam pulang sekolah. Ya, tujuannya agar siswa tidak merasakan jenuh .

Sisi lain yang tak kalah menariknya, beliau kerapkali membagikan permen kepada para siswa. Pemberian itu dilakukan sebagai bentuk reward, terutama untuk siswa yang berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan darinya.

Hobinya terebut mengingatkan penulis kepada salah seorang Ulama Sufi dunia, yakni Maulana Syekh Muhammad Nazim Adil Al Haqqani – Dari jalur ayah, beliau masih keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, sedangkan dari jalur ibu masih keturunan Syekh Jalaluddin Rumi-.  Dalam setiap kunjungannya, beliau hampir selalu membawa banyak permen untuk ditaburkan kepada para jamaah.

Kebiasaannya itu, pun dijelaskan oleh ulama kelahiran Siprus tersebut.  Beliau mengatakan, salah satu sunnah setelah berzikir adalah membagikan sesuap madu kepada orang-orang yang ikut berzikir. Bila tidak ada madu, maka dapat digantikan dengan permen atau gula.

Mata pelajaran yang diampu Pak Hariri adalah Biologi. Selain ceramah, metode pembelajaran yang diterapkannya dengan menghafal. Para siswa pun seringkali berebut tanda tangan beliau. Terutama saat setiap berhasil menyetorkan hafalannya. Hal demikian layaknya seorang idola yang dimintai tanda tangan oleh para penggemarnya.

Selain itu, di sela-sela menjelaskan Biologi, sesekali beliau mengimbanginya dengan asupan batin, yakni ilmu Hikmah. Pelajaran tersebut diberikan sebagai bekal bagi mereka untuk menjalani kehidupan, terutama pasca lulus dari sekolah.

Pak Hariri juga sering membagikan Rajah yang ditulis olehnya menggunakan Tinta Jafaron Merah. Rajah tersebut biasanya dicelupkan ke dalam air putih,  teh atau air minuman lainnya. Konon, salah satu khasiatnya, sebagai perantara untuk mencerdaskan siapa saja yang meminumya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ketakdziman Kang Muslih kepada Gurunya

Dalam keadaan sakit dan tempuh perjalanan jarak jauh, tak menyurutkan semangat Kang Muslih untuk mendapatkan barokah dari gurunya.   KH Moh Muslih mondok di Pesantren Lirboyo...

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, Kang Muslih Wafat

اِنَّا لِلَّهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ Kabar duka datang dari keluarga, dewan guru, santri dan alumni pesantren PATWA. Sesepuh pesantren PATWA KH Moh Muslikh berpulang ke...

Khidmat Ikuti Acara di Penghujung Ramadhan 1442 H

Di malam ke-29 ramadan, halaman pondok Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada, dipenuhi ratusan santri yang hendak mengikuti rangkaian acara. Doa Takhtimul Kutub ngaji pasaran,...

Bergiat di Sepertiga Ramadhan

Oleh: Abdul Ghoni Dapat kita hitung bersama, Sepertiga atau 10 hari terakhir di bulan ramadhan ini merupakan pembagian dari tiga fase. Dijelaskan oleh Imam Al...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN