Thursday, October 28, 2021
Home Inspirasi Cerpen Nuzhatul Majalis: Kisah Empat Dirham Menuju Kemerdekaan

Nuzhatul Majalis: Kisah Empat Dirham Menuju Kemerdekaan

Oleh: Ust. Musta’in MH.

Suatu Ketika, syekh Mansur bin Ammar sedang mengisi pengajian yang dihadiri banyak orang. Di tengah penyampaian beliau, tiba-tiba salah seorang maju dan meminta uang 4 (Empat) dirham. Seketika itu syekh berkata:

“Barangsiapa yang memberinya, maka akan saya doakan empat permintaan.”

Di luar dugaan, yang menghapiri dan memberi orang tersebut adalah seorang budak milik tuan dari golongan Yahudi. (Hening)

Ia mendekat dan memberikan empat dirham, kemudian meminta kepada syekh untuk medoakan: “Saya seorang budak, berdoalah untukkku agar aku merdeka. Saya orang fakir, doakan aku menjadi kaya. Saya orang yang berdosa, doakan aku agar mendapat ampunan Allah, dan doakan tuanku agar memeluk Islam.”

Sesampainya di rumah tuan, ia ditegur karena pulang terlambat. Sebagai alasan, sebuah kesempatan baginya untuk menceritakan tentang kedatangannya ke majelis dan bersedekah empat dirham yang dijanjikan untuk didoakan empat permohonan. Namun disaat penjelasannya itu, tuannya malah tegas menimpali doa-doanya dengan memberikan semua yang diinginkan.

“Aku meminta kepada syekh untuk didoakan agar diriku merdeka.”
Tuannya menjawab, “Kamu merdeka, karena Allah”.
Dilanjutkannya bercerita, “aku faqir, doakan aku agar kaya”
Tuannya menjawab, “Kamu, saya kasih uang empat ribu dirham”
Dengan penuh kepercayaan, seorang budak tersebut menceritakan dalam doanya, “semoga tuanku masuk Islam”
Tanpa pikir panjang, tuannya mengucapkan dua kalimat syahadat.
(Tenang). Dan terakhir ia bercerita tentang permohonannya untuk diampuni dosa dirinya dan tuannya. Namun yang terucap oleh tuannya, “Itu di luar kuasaku.”

Pada saat tidur, tuan dalam mimpinya mendengar suara yang datang kepadanya: “engkau telah berbuat apa yang kamu mampu, dan Aku akan berbuat apa yang Aku mampu. Aku mengampunimu, budakmu, syekh Mansur, dan orang-orang yang hadir dalam majelis.”

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ketakdziman Kang Muslih kepada Gurunya

Dalam keadaan sakit dan tempuh perjalanan jarak jauh, tak menyurutkan semangat Kang Muslih untuk mendapatkan barokah dari gurunya.   KH Moh Muslih mondok di Pesantren Lirboyo...

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, Kang Muslih Wafat

اِنَّا لِلَّهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ Kabar duka datang dari keluarga, dewan guru, santri dan alumni pesantren PATWA. Sesepuh pesantren PATWA KH Moh Muslikh berpulang ke...

Khidmat Ikuti Acara di Penghujung Ramadhan 1442 H

Di malam ke-29 ramadan, halaman pondok Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada, dipenuhi ratusan santri yang hendak mengikuti rangkaian acara. Doa Takhtimul Kutub ngaji pasaran,...

Bergiat di Sepertiga Ramadhan

Oleh: Abdul Ghoni Dapat kita hitung bersama, Sepertiga atau 10 hari terakhir di bulan ramadhan ini merupakan pembagian dari tiga fase. Dijelaskan oleh Imam Al...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN