Tuesday, June 15, 2021
Home Uncategorized Menilik Kisah: Sejarah Puasa Tarwiyah dan Arafah

Menilik Kisah: Sejarah Puasa Tarwiyah dan Arafah

Oleh: Fadlan Abdullah

Ajaran islam telah menganjurkan puasa sunnah sebagai salah satu ibadah yang dilakukan umatnya untuk mendapatkan kasih sayang Allah SWT. Dengan melaksanakan puasa sunnah, seseorang dijanjikan akan mendapatkan beberapa keutamaan di sisi-Nya untuk menjadi orang-orang yang disayangi Allah serta mendapatkan pundi-pundi pahala bagi yang melaksanakannya.

Pada bulan zulhijah, tepatnya di tanggal 8 dan 9 mempunyai salah satu keutamaan puasa sunnah. Di dalamnya terdapat keutamaan tersendiri, seperti dikutip dari kitab Dzurratun Nasikhin pada penjelasan fadilah puasa di tanggal 8 Dzulhijjah, yang sudah mashur disebut sebagai hari tarwiyah, dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim ditagih janjinya oleh Allah Swt. Yang sebelumnya berjanji dalam mimpinya Nabi Ibrahim a.s, diperintahkan untuk menyembelih anaknya yang pertama bernama Nabi Ismail as. Namun, Nabi Ibrahim as, bingung atas perintah-Nya. Apakah perintah itu datang dari Allah Swt atau hanya bisikan setan, kebingungan inilah yang disebut tarwiyah. Oleh karena itu, Allah Swt memberikan pahala sebesar-besarnya kepada hambanya yang berpuasa di tanggal 8 Dzulhijjah, dan tidak diqiyaskan seperti pahala apapun.

Setelah Tarwiyah, di tanggal 9 zulhijah sudah umum disebut dengan puasa Arafah. Pada tanggal ini ada dua kejadian yang melatar belakangi adanya pahala khusus tentang Arafah. Peristiwa pertama, Arafah sebagai tempat pertemuan antara Nabi Adam as dan Siti Hawa yang telah dipisahkan selama kurang lebih 100 tahun. Dan Arafah pada kisah Nabi Ibrahim as, yaitu sebagai bentuk keyakinan beliau atas mimpinya yang diperintahkan Allah untuk menyembelih Anaknya.
Allah Swt memberikan pahala bagi orang yang berpuasa pada tanggal 9 Zulhijjah yaitu: memberi pengganti (kifarat) apa saja, untuk tahun yang telah terlewat dan setahun yang akan datang.

Hadis ini yang di riwayatkan oleh Imam Muslim yang menjelaskan tentang puasa Arafah ini diantaranya, Rasulullah saw bersabda :
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
Artinya: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim).

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah
Para ulama mengklasifikasikan bahwa dalam satu tahun hijriah itu terdapat tiga usyur (tiga 10 hari). Diantaranya yaitu di bulan Dzulhijjah, tepatnya tanggal 1-10 bulan Dzulhijjah, sepuluh hari terakhir di bulan Romadhon dan sepuluh hari pertama di bulan Muharam (tanggal 1-10 Muharam). Itulah yang disebut dengan tsalatsa asyaratin (tiga macam dari kesepuluh harian). Tiga 10 hari tersebut memiliki fadhilah (keutamaan) yang berbeda-beda di tiap-tiap harinya.
Bicara tentang 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah, para ulama menjelaskan keutamaan dari sepuluh hari tersebut, khususnya bagi orang yang berpuasa di dalamnya (kecuali tanggal 10 Dzulhijjah yang memang diharamkan untuk berpuasa). Yaitu, Allah akan memberikan sepuluh macam kebaikan.
Pertama, Allah akan memberi berkah dalam hidupnya. Kedua, Allah akan menambahkan hartanya yang sedikit menjadi banyak dan yang banyak menjadi lebih banyak. Ketiga, akan dijaga keluarganya, meliputi keselamatan hidupnya dari segala macam musibah yang akan menimpa keluarganya. Keempat, dilebur kejelekannya. Baik kejelekan tersebut berupa dosa ataupun kesalahan. Kelima, dilipat gandakan seluruh perbuatan baiknya, baik berupa ibadah ataupun kebaikan terhadap sesama makhluk Alah. Keenam, akan dimudahkan ketika sakratul maut. Ketujuh, akan diberi penerangan ketika di alam kubur. Kedelapan, akan diberatkan timbangan amal baiknya di hari penghisaban kelak. Sehingga, amal baik yang sedikit itu akan menjadi berat. Selanjutnya yang kesembilan, akan diangkat derajatnya oleh Allah Swt. Dan yang terakhir Kesepuluh, Allah Swt. akan mengangkat/memenuhi segala keinginan dan kebutuhannya. Sepuluh keutamaan tersebut, secara khusus Allah berikan kepada umat Nabi Muhammad Saw. yang merupakan bentuk rahmat dan kasih sayang-Nya.
Masih dalam keterangan kitab Dzurrotun Nasikhin, menurut riwayatnya Ibnu Abbas, Rasulullah SAW mengatakan bahwa tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah Swt daripada perbuatan baik yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Ditambah, Allah Swt akan memberikan pahala langsung serta menjanjikan dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, yaitu kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan-Nya.

Bacaan Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah

Sebelum melaksanakan puasa Tarwiyah dan puasa Arafah, ada bacaan niat yang dapat dilafalkan. Berikut adalah niat puasa Tarwiyah :
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التروية لِلهِ تَعَالَى.
Artinya : “Saya niat berpuasa sunnah Tarwiyah karena Allah Swt”.
Sedangkan ini adalah niat puasa Arafah :
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى.
Artinya : “Aku berniat puasa sunnah Arafah esok hari karena Allah Swt”.
Demikianlah sedikit penjelasan mengenai kisah di balik mulianya puasa Tarwiyah dan Arafah, semoga bagi yang menjalankannya mendapat nikmat dan kasih sayang dari-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Khidmat Ikuti Acara di Penghujung Ramadhan 1442 H

Di malam ke-29 ramadan, halaman pondok Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada, dipenuhi ratusan santri yang hendak mengikuti rangkaian acara. Doa Takhtimul Kutub ngaji pasaran,...

Bergiat di Sepertiga Ramadhan

Oleh: Abdul Ghoni Dapat kita hitung bersama, Sepertiga atau 10 hari terakhir di bulan ramadhan ini merupakan pembagian dari tiga fase. Dijelaskan oleh Imam Al...

Kaidah Mencari Lailatul Qadar

Oleh: Abdul Ghoni Sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan, menjadi sangat istimewa bagi mereka yang mendambakan malam Lailatul Qadar. Hal ini tentunya sudah banyak yang...

Fun Brewing Collaboration di Malam Ta’dzim Nuzulul Qur’an

Sejumlah Barista (Peracik Kopi) dari beberapa kedai kopi yang tergabung dalam wadah Seduh`Lur Cirebon Timur, mengadakan Fun Brewing pada Acara Malam Ta’dzim peringatan Nuzulul Quran di Pesantren...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN