Saturday, December 4, 2021
Home Inspirasi MEMBUMIKAN TUHAN

MEMBUMIKAN TUHAN

Oleh : Dr. A. Syatori, M.Si. (Koordinator Bidang Komunikasi Allumni dan Kerjasama Yayasan PATWA)

Maqolah sufistik yang populer sebagai rujukan pendefinisian diri adalah, “Man ‘arafa nafsah, ‘arafa rabbah” (yang tahu diri, tahu Tuhan). Maqolah ini memproyeksikan manusia menjadikan dirinya sendiri sebagai subyek sekaligus obyek dalam memahami diri dan Tuhannya. Sebagai subyek, ia dituntut arif terhadap dirinya dalam kapasitasnya sebagai manusia yang mempunyai kelebihan dan kekurangan tanpa melibatkan atribut apapun saat melihat diri. Dirinya adalah obyek dan sekaligus ‘ukur’ dalam memandang orang lain berdasar watak dasarnya sebagai mahkluk jasmani-ruhani yang butuh kenyamanan menyeluruh. Ukur diri itu merujuk pada ukur Tuhan ketika Dia memandang manusia ciptaan-Nya dengan penuh rasa kasih sayang yang diterjemahkan dalam kebijakan-Nya sendiri dan bersifat sangat ekslusif-otoriter, sehingga sering tidak dimengerti oleh manusia.

Tuhan sebagai esensi yang mutlak (tanpa nama dan sifat), tidak mungkin dikenal. Tuhan hanya dapat dikenal melalui tajalli-Nya pada alam. Tetapi wujud-Nya yang hakiki tetaplah transenden, tidak dapat dikenal oleh siapapun. Jadi, sebab terjadinya tajalli Tuhan pada alam seperti yang dikatakan Ibn al-‘Arabi adalah karena Ia ingin dikenal dan ingin melihat citra diri-Nya melalui alam. Untuk itu Ia memanifestasikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada alam (Ali, 1997: 54). Dengan demikian, alam merupakan perwujudan dari nama-nama dan sifat-sifat tuhan. Tanpa adanya alam, nama-nama dan sifat-sifat itu akan kehilangan makna dan akan selalu berada dalam bentuk potensialnya pada zat Tuhan. Demikian pula zat yang mutlak itu sendiri akan tetap di dalam kesendirian-Nya, tanpa dapat dikenal oleh siapapun. Di sinilah letak urgensi wujud alam sebagai wadah tajalli Tuhan, yang padanya Tuhan melihat citra-Nya dalam wujud yang terbatas.

Manusia sebagai bagian dari alam adalah merupakan wujud serba meliputi (al-kawn al-jami’) (Murata, 1999: 61). Manusia memiliki potensi untuk memanifestasikan semua nama dan sifat Tuhan. Hal ini terutama dilandasi oleh sabda Nabi SAW. yang menyatakan : “ Sesungguhnya Allah menciptakan Adam (manusia) menurut bentuk-Nya” (al-‘Arabi, 1972: 2:67). Kata ‘Allah’ dalam hadits ini adalah al-ism al-jami’ yang berarti mencakup semua nama Tuhan. Itulah sebabnya Allah SWT. berfirman yang artinya : “Dan Dia telah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya …” (QS. 2:31). 

Jadi, secara primordial, manusia merupakan makhluk teomorfis (wadah tajalli Tuhan) yang memiliki potensi untuk menerima penampakan semua nama dan sifat Tuhan. Karena dengan sifatnya tersebut, manusia dapat memperlihatkan variasi tidak terbatas nama-nama dan sifat-sifat tuhan secara utuh, bersatu dan terkonsentrasi. Berbeda dengan alam selain manusia yang hanya memanifestasikan sebagian dari nama-nama dan sifat-sifat Tuhan secara terpisah dan menyebar di berbagai tempat di alam semesta. Kualitas dasar manusia atas makhluk lain biasanya diidentikkan dengan potensi batin manusia yang disebut dengan ‘hati’.

Bagi manusia, hati merupakan pembeda utama dari makhluk lain selain dirinya, karena hanya manusialah yang memiliki hati. Ia dianggap sebagai lokus dari apa yang membuat manusia menjadi manusiawi, pusat dari kepribadian manusia, jati diri dan hakikat manusia. Ia lah yang dapat membuat manusia menjadi begini atau begitu. Hati merupakan awal segala awal yang menggerakkan perbuatan manusia yang cenderung kepada kebaikan atau keburukan. Dan ia juga dianggap memiliki potensi untuk mengenal, mengetahui dan mengerti tentang segala sesuatu. Karena hati merupakan pusat sejati dari seorang manusia, Tuhan menaruh perhatian yang sangat besar padanya. Sehingga dengan lapang dada Tuhan  menjadikan hati sebagai tempat pengungkapan diri-Nya sendiri pada manusia. Kehadiran Tuhan akan dapat dirasakan begitu nyata hanya di dalam hati. 

Dalam satu kesempatan, Ibn ‘Atha’illah seorang sufi besar Islam dari Mesir menggambarkan potensi hati manusia sebagai berikut : “Cahaya mata hati (syu’a’u al-bashirah) dapat memperlihatkan kepadamu dekatnya Allah kepadamu. Dan mata hati itu sendiri (‘ain al-bashirah) dapat memperlihatkan kepadamu akan sifat ketiadaanmu (‘adam) karena sifat wujud-Nya. Dan hakikat mata hati itulah (haqq al-bashirah) yang menunjukkan kepadamu wujud (adanya) Allah, bukan ketiadaanmu atau wujudmu” (Danner, 1999: 51).

Sementara itu, Ibn al-‘Arabi (1972: 4:323), seorang sufi besar dari Andalusia Spanyol, berpendirian bahwa hati adalah alat yang dengannya dapat mencapai makrifat kepada Allah SWT. dan rahasia-rahasia ketuhanan. Ia merupakan realitas manusia yang lembut yang sudah memadai untuk pengungkapan diri Tuhan. Karena ia tidak dapat diperbandingkan dan sekaligus sama. Tuhan juga tidak dapat dijangkau tapi sekaligus hadir. Hati merupakan substansi yang bercahaya dan terpisah antara ruh dan jiwa. Hati terjebak di antara keduanya. Kadang-kadang ia ditarik menuju cahaya dan kebahagiaan. Kadang-kadang ia menuju kegelapan dan kesengsaraan. Jika ia naik menuju ruh, ia akan mencapai kesempurnaannya sebagai ‘jiwa rasional’. Dan jika ia turun menuju jiwa yang dikuasai oleh batasan-batasan badaniah, ia akan terputus dari cahaya itu (Murata, 1999: 389-390). Jadi, ketika hati mencapai kesempurnaan perwujudan dalam diri manusia yang sempurna, ia akan menampilkan Tuhan dalam pengungkapan diri-Nya yang tak terbatas. Dan ketika  hati bergerak menuju kenistaan, ia akan menjauh dan terasing dari eksistensinya dan dari Tuhannya.

Demikianlah, maka untuk menimbang segala amalan-amalan aktual manusia, Tuhan pun menggunakan hati sebagai tolok ukurnya. “Tidak ada celanya jika kamu berbuat salah, kecuali jika hatimu menyengajanya”.(QS 33:5). “Tuhan tidak akan menghukummu karena sumpah yang tidak disengaja, tetapi Tuhan akan menghukummu karena sumpah yang disengaja oleh hatimu. Dan Tuhan maha pengampun lagi maha penyantun”. (QS 2:225;bandingkan dengan QS 2:118 dan QS 8:70). Sebuah hadits mengatakan bahwa “Tuhan tidak melihat badanmu atau bentukmu, melainkan ke dalam hatimu”. (HR Muslim). 

Hadits itu menunjuk betapa manusia yang fisis (sesungguhnya) telah menyatu dengan Tuhan yang non-fisis dan diinstruksikan bisa melihat-Nya melalui instrumen diri sendiri yang fisis. Dengan kata lain, manusia adalah ‘citra Tuhan’ yang paling sempurna. Manusia merupakan makhluk teomorfis atau –bahasa kerennya- merupakan wadah tajalli Tuhan, tempat pengejewantahan nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Ia memiliki ‘hadiah istimewa’ dari Tuhan berupa kemampuan memanifestasikan dirinya atas semua nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Artinya, sebenarnya manusia memiliki potensi untuk ‘menjadi Tuhan’. Karena dengan sifatnya tersebut, manusia dapat memperlihatkan variasi tidak terbatas nama-nama dan sifat-sifat Tuhan secara utuh, bersatu dan terkonsentrasi. Berbeda dengan alam selain manusia yang hanya memanifestasikan sebagian dari nama-nama dan sifat-sifat Tuhan secara terpisah dan menyebar di berbagai tempat di alam semesta. 

‘Kado istimewa’ Tuhan bagi manusia juga diberikan dalam wujud pengajaran semua nama-nama benda kepada manusia pertama, Adam. Saking cintanya kepada manusia dengan begitu tulus Tuhan menganugerahkan kepada manusia suatu posisi yang luar biasa, yakni sebagai khalifah (wakil)-Nya dimuka bumi. “Aku menciptakan di muka bumi seorang khalifah. (QS 2:30). Jadi, sebenarnya memang sudah dari sononya manusia memiliki ‘hubungan dekat’ dengan Tuhan. “Tuhan sesungguhnya lebih dekat kepada manusia dibanding dengan dekatnya manusia kepada dirinya sendiri”. (QS 50:16), Saking dekatnya, sampai tidak terlihat. Maka ajaran manunggaling kawulo-gusti (wahdat al-wujud) tidak hanya dipahami melalui kurikulum sufistik saja, (misalnya) dengan ekstasi total yang dapat menengelamkan diri larut dalam lautan diri Tuhan (istigraq fi bahr al-wihdah) sehingga secara tak sadar kadang terucap kata-kata ‘murtad’ yang membimbangkan kaum fuqaha eksoteris, seperti ‘Ana al-Haqq’ ucapan al-Hallaj, ‘Subhani, subhani ma a’dama sya’ni’ ucapan Abu Yazid al-Busthami (w. 261 H), ‘Ma fi jubbati illa Allah’ ucapan Abu Ali bin Abi Thalib al-Farisi, dan lain – lain.

Sampai disini, konsep wahdat al-wujud dan potensi manusia atas manifestasi wujud Tuhan itu tidak dipahami bahwa Tuhan identik dengan manusia atau alam sebagaimana gagasan yang diusung oleh paham panteisme, sebuah konsep teologi yang diusung oleh para pemikir Barat.  Paham ini beranggapan bahwa semua yang ada pada keseluruhannya adalah Tuhan, dan Tuhan adalah semua yang ada sebagai keseluruhannya. Tuhan dan alam adalah satu realitas atau satu wujud. Di sini imanensi Tuhan terlihat secara total dan transendensi-Nya hilang, perbedaan esensial antara Tuhan dan alam tidak ada lagi (Noer, 1995: 2). Dalam teologi dan sufisme Islam, wujud alam atau manusia dipahami hanyalah dalam pengertian metaforis (majazi) saja, bukan menurut hakikatnya. Apa yang terlihat sebenarnya bukanlah hakikat alam, namun wujud itu sendiri, yakni Tuhan al-Haqq ketika tidak ada lagi eksistensi yang membolehkannya menjadi terlihat (Chittick, 2001: 31).

Ada cerita imajiner yang mendialogkan antara ibadah mahdah dengan kerja sosial. Seorang pedesaan lugu (al-balh) dengan segala persiapannya positif akan menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Tiba-tiba anak tetangganya sakit keras dan atas dasar kemanusiaan, ia rela uang persiapan haji dipinjamkan untuk biaya pengobatan anak tetangga itu. Ternyata ia gagal berangkat haji karena si tetangga tak mampu bayar tepat waktu. Dan ia ikhlas. Pertengahan bulan Dzulhijjah (waktu menjalankan rukun haji telah usai), ia bermimpi berada ditengah kerumunan orang banyak yang rata-rata mengenakan kain sorban. Suasananya mirip Grammy Award dan acaranya adalah pengumuman haji mabrur. Di luar dugaan, dia terpilih, padahal tidak melakukan haji. Setelah ditanyakan, salah seorang panitia penyelenggara berkata: “Pahala keikhlasan dalam membantu kesulitan tetangga, sebanding dengan pahala haji mabrur”.

Peleburan diri manusia ke dalam diri Allah itu seharusnya dipahami melebar pada dataran in any action (fi sya’n) mencakup semua kerja manusia yang manusiawi-religius dan diwujudkan melalui skill yang ia punyai (al-‘amal ‘ala asy-syakilah, QS 17:84) dan sesuai dengan hukum ruang dan waktu (al-‘amal ‘ala al-makanah, QS 11:93). Ini justeru yang paling nyata manfaatnya dan dapat dirasakan orang lain, daripada kontemplasi fana, yang bersifat ekslusif dan terbatas. Maka manusia tidak lagi terpuruk dalam nafsu kebinatangan yang memang sejak mulanya ada pada dirinya, akan tetapi secara perlahan bergerak memasuki das sein dan das sollen secara seimbang dan teraplikasikan dalam sikap keseharian yang sangat definitif. Manusia inilah yang digagas al-Ghazali (450-505 H) sebagai ‘manusia paripurna’ (al-insan al-kamil) yang mempunyai kemampuan mendefinisikan diri dan siap menjawab tantangan zaman sesuai jiwa teologisnya. Dalam wujud al-insan al-kamil, Tuhan yang ‘melangit’ itu benar-benar dapat dirasakan keberadaan-Nya di atas muka bumi.

Daftar Pustaka

al-‘Arabi Ibn, 1972, Al-Futuhat al-Makkiyyah, Ed. Usman Yahya, Mesir:Al-Hai’at al-Misriyyah al-Ammah li al-Kitab, 2:469-470 dan 1:148.

Ali Yunasril, 1997, Manusia Citra Ilahi, Jakarta:Paramadina. 

Chittick William C., 2001, Dunia Imajinal Ibnu ‘Arabi, Terjemahan Achmad Syahid dari Imaginal World, Ibn al-‘Arabi and The Problem of Religious Diversity, Surabaya:Risalah Gusti.

Danner Victor, 1999, Mistisisme Ibnu ‘Atha’illah, Terjemahan Roudlon dari Ibn ‘Athai’illah’s Shufi Aphorisms, Surabaya: Risalah Gusti.

Murata Sachiko, 1999, The Tao of Islam, Terjemahan Rahmani Astuti dan M.S. Nasrullah dari The Tao of Islam, Bandung:Mizan.

Noer Kautsar Azhari, 1995, Ibn al-‘Arabi:Wahdat al-Wujud Dalam Perdebatan, Jakarta:Paramadina.

2 COMMENTS

  1. Islam itu bukan katanya tapi dirasakan dengan hati dan keyakinan penuh. Tentu berdasarkan syariat.

    Islam itu agama Allah yang nyata dan bukan sebatas retorika dan simbol-simbol belaka. Kenal diri harusnya bertanya pada diri sendiri. Untuk mengendalikan nafsu, tentunya nafsu dunia, kesombongan diri, paling merasa tau, dan prasangka.
    Dengan demikian konsep “mengenal diri” adalah orang tidak lalai dengan dirinya, merasakan apa yang diperbuatnya, berani bertafakur tentang semua yang terjadi pada dirinya. ” Orang yang paling merugi adalah orang yang tidak pernah merasakan apa yang dilakukannya “.

    Bisa berdiskusi lebih lanjut
    Mohon maaf “Al-fakir” tertarik dengan bahasan njenengan.🙏

    • Orang-orang Yatsrib itu kan menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Mereka petani. Lalu, gimana ceritanya ya hanya dalam tempo 2 tahun setelah kedatangan orang-orang Mekkah, petani-petani ini bisa menjadi tentara perang di Badar. Ya, yang berperang di Badar melawan para oligark Quraisy Mekkah itu ya sebagian besar orang-orang Yatsrib yang petani itu. Petani ini emang radikal-revolusioner.
      Terus, gimana ceritanya ya Kanjeng Nabi dan sahabat muhajirin yang berbasis pedagang dan pebisnis itu bisa membangun kehidupan di tengah masyarakat agraris Yatsrib. Ya, Kanjeng Nabi belajar jadi petani setelah tinggal di Yatsrib. Ingat, Kanjeng Nabi belajar dagang sejak usia 16 tahun. Hijrah ke Yatsrib sekira usia 50 tahun. Jadi belajar bertani hanya beberapa tahun saja. Tapi dengan sangat luar biasa bisa membangun sistem ekonomi Yatsrib yang agraris dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Subhanallah.

      Saya pernah bikin status FB spt itu.

      Mari belajar menjadi insan kamil dari “insan kamil” yang sesungguhnya, kanjeng Nabi kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ketua Yayasan Ajak Warga Bantu Pengecoran Langgar PATWA

Renovasi Langgar atau Musholla Pesantren Attarbiyyatul Wathoniyah (PATWA) telah berlangsung sejak Ahad, 7 November 2021 kemarin. Pembangunan ini tak lepas dari pelibatan para santri, alumni...

Percepat Renovasi, Santri dan Alumni Giat Ikuti Progres Pembangunan Tajug PATWA

Dari hasil pantauan di lapangan, terhitung dari tanggal 7 November 2021 hari pertama renovasi tajug PATWA, Minggu (07/11/21). Setiap harinya puluhan santri dan alumni...

Kang Jazlie, Alumni PATWA Jadi Ketua Lakpesdam PCINU Sudan

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan dan Badan Otonom PCI Muslimat NU Sudan Masa Khidmat 2021-2022 dilantik pada Ahad (14/11/2021) kemarin, bertempat di...

Meneladani Kang Muslih yang Rajin Bersedekah

Ratusan santri, dewan guru dan alumni Pesantren Attarbiyyatul Wathoniyah (PATWA), Rabu sore (10/11/2021) tampak menghadiri peringatan tahlil dan doa untuk 100 hari wafatnya Sesepuh...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN