Wednesday, June 23, 2021
Home Inspirasi Cerpen Malik dan Segenggam Didikan Ayah #2

Malik dan Segenggam Didikan Ayah #2

Bagian ke-2

Suara adzan shubuh berkumandang, hujan sudah reda. Ayahnya yang biasa membangunkan Ibunya dan Malik, kini masih terlentang di atas kasur. Istrinya berpikir mungkin suaminya masih butuh istirahat yang cukup setelah semalam mengerang kesakitan.

Saat semuanya sudah selesai, Malik merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya. Tapi ia tak tahu apa penyebab dari rasa aneh terebut.

“Maliiiiiikkk..” teriak ibu.

Ia langsung lari menuju ibunya.
Sesampai di kamar Ayahnya, Malik diam membisu. Ia memaku di depan pintu kamar orang tuanya. Ibu menangis sejadi-jadinya. Ia meronta seolah ia tidak mau berpisah dari suami yang sudah menemaninya selama tiga puluh tahun silam.
Malik masih diam membisu. Air matanya jatuh tak terbendung.
“Ayahmu sudah pulang ke pangkuan-Nya, Nak.” Kata Ibu, mencoba menenangkan Malik.

Semenjak saat itu, Malik sudah kehilangan gairah hidup. Separuh semangatnya dibawa pergi oleh Ayahnya, kini yang tersisa hanya semangat dari Ibu. Ia berjanji dalam hatinya ingin memenuhi permintaan terakhir dari Ayahnya.

Malik bekerja banting tulang untuk mengumpulkan modal, ia berniat ingin menikahi Kinasih putri salah satu tokoh agama setempat. Ia hanya mempunyai keberanian dan sedikit modal. Setelah modal dirasa cukup, Malik mulai berterus terang kepada Ibunya bahwa ia ingin melamar Kinasih.

Tanpa waktu lama Malik dan Ibunya pergi ke rumah Kinasih, alih-alih ingin meminta anaknya untuk bisa disatukan dengan Malik. Namun justru mereka berdua mendapat perlakuan kurang etis. Keduanya disuruh menunggu diluar oleh salah satu santri, bahwa Pak Kiai sedang ada tamu besar. Mereka tidak dipersilahkan masuk, hanya disuruh menunggu di luar rumah. Kinasih tak ada, ia mungkin ada di dalam dan tidak tahu bahwa hari ini ia ingin dilamar oleh Malik.

Setelah dipersilahkan masuk, Ibunya langsung matur kepada Pak Kiai.

“Saya kesini dengan niat baik, ini putra saya bernama Malik. Ingin melamar putri bapak bernama Kinasih.”

Pak Kiai terperangah, ia kaget atas ucapan Ibu Rustini yang ingin meminta putrinya untuk dinikahkan dengan laki-laki di sebelahnya.

“Kinasih…” Teriak Pak Kyai memanggil anaknya.
“Ndaleem, Bah..” Jawab Kinasih.

Ia kaget bahwa Malik dan Ibu Rustini sekarang ada di rumahnya. Ia lalu menunduk malu.

“Ibu ini memintamu untuk dijadikan istri anaknya. Apa mereka kesini tanpa bercermin terlebih dahulu. Anak saya sudah dijodohkan dengan anaknya Kiai Hasan. Beliau adalah seorang tokoh ulama kampung sebelah yang paling mashur. Anaknya itu adalah lulusan mesir. Sampean anak petani dan kerjamu tidak jelas, berani-beraninya kesini mau melamar anak saya.” Ucap Pak Kiai dengan nada tinggi.

Suasana menjadi sangat panas, Ibu Rustini hanya bisa tersenyum mendengar semua omongan dari Pak Kiai. Meski yang dihadapannya selalu melontarkan kata yang tidak enak di dengar, ia hanya membalas dengan senyuman tulus.

“Bapak itu seorang Kiai, tokoh agama di kampung kita, orang-orang melihat Bapak adalah sosok yang tawadlu. Sebelumnya saya meminta maaf atas kekurang ajaran omongan saya ini, tapi Bapak telah merendahkan kami. Memang apa salahnya anak seorang Kiai menikah dengan anak orang biasa? Apa salah juga kalau orang miskin menikah dengan orang kaya? Apakah sebuah kehinaan jika anak seorang Kiai menikah dengan anak seorang petani seperti saya? Alangkah malang jika seseorang yang dianggap paham soal agama, tapi dalam tingkah lakunya tidak selaras dengan ucapannya di mimbar-mimbar. Saya sangat menghargai Bapak, tapi jika Bapak tidak menghargai saya dan Ibu saya apalagi sudah merendahkan martabat kemanusiaan, maka saya sekarang sudah tidak bisa menghargai Bapak, tidak peduli Bapak seorang Kiai yang paham agama. Kata malik dengan nada penuh emosi, mukanya sudah merah merona. Ia membabi buta, seolah tidak memberi kesempatan kepada Pak Kiai untuk bicara.

“Pak, saya memang anak petani. Kerja saya sekarang serabutan. Tapi saya begini karna bahagia menjalaninya, bekerja dengan hasil usaha sendiri. Tidak meminta ke siapa-siapa. Apalagi ke Bapak. Ayah saya seorang petani yang miskin, tapi ia kaya hatinya. Ia selalu mengajarkan tentang bagaimana menghargai kehidupan, ia menjadi paling mengerti anaknya. Ia tak pernah memaksa saya untuk harus ini dan itu. Anak punya kebahagiaannya sendiri, Pak. Apakah Bapak tidak pernah berfikir, dijodohkannya Kinasih dengan anaknya Kyai Hasan adalah suatu keputusan yang menyakiti anak Bapak? Apa Bapak tahu? Tidak!. Orang-orang tua seperti Bapak lah yang selalu mempunyai anggapan bahwa barometer kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua. Tidak selalu begitu, Pak. Anak mempunyai dunianya sendiri, begitupun kebahagiaannya. Agama memang menganjurkan jika dalam memilih pasangan salah satu diantaranya adalah mempunyai keturunan yang baik, tapi bukan berarti Bapak seenaknya menafsirkan bahwa anak orang biasa menjadi sangat hina dan tidak boleh menikah dengan anak yang mempunyai keturunan baik. Sekali lagi saya katakan bahwa Kinasih adalah korban dari keegoisan Bapak. Ia rela membunuh kebahagiaannya demi kebahagiaan bapak yang ingin dipuji orang punya menantu anak seorang Kiai juga. Dan Bapak perlu tahu, dalam kaca mata saya bahwa seorang Kiai adalah orang yang mampu memadu-padankan antara saleh ritual dan saleh sosial. Dzikir Bapak hanya sebatas ucapan, belum sampai pada perilaku. Tuhan memberi rahmat-Nya bukan hanya pada orang kaya, Kiai, Bupati bahkan sampai Kepala Negara. Ia adil, Pak.”

Malik masih memburu Pak Kiai dengan hunjaman kata-katanya, ia sudah lepas kontrol. Ibunya menangis dan berkali-kali mencoba menghentikan Malik agar diam. Tapi malik tetap saja bicara, amarah malik sudah sampai pada puncaknya. Pak Kiai hanya bisa diam dan menunduk, sesekali ia melihat anaknya Kinasih yang sedang menangis di sampingnya.

Keadaan menjadi bisu, suasana ruangan semakin terasa menegang. Tak ada lagi sepatah kata yang terucap baik dari Malik, Ibu Rustini atau Pak Kiai. Setelah itu keduanya pamit hanya mengucapkan salam, mereka pulang dengan membawa kekecewaan tiada tara. Malik berjalan dengan begitu cepat sekai, di jalan ia membayangkan sesuatu yang selama ini ia mimpikan.

“Jika hidup tanpa adanya kelas sosial, semua manusia di bumi pasti akan sejahtera. Satu sama lain memandang hanya sebatas manusia, tidak ada lagi suatu penghormatan lebih terhadap seseorang hanya karena ia memiliki kekuasaan tinggi. Tak ada pertikaian antar sesama dilatar belakangi oleh kekuasaan. Kekuasaan hanya akan melanggengkan sistem feodalistik. Orang-orang kelas bawah akan selalu di bawah dan akan terus tertindas. Sementara mereka tetap ongkang-ongkang kaki di singgah sana, sambil memarahi babu-babunya yang salah bekerja. Hidup jika berkutat dalam pusaran kekuasaan, harta dan hawa nafsu hanya akan membuat hidup lebih menderita. Kaya harta, status dan kedudukan bukan menjadi barometer ia bahagia, kebahagiaan seseorang yang tahu hanya individunya tersebut. Status sosial tidaklah penting, selagi ia masih bisa melihat seseorang adalah manusia tanpa merendahkan sesama, maka ia pantas disebut sebagai manusia. Kemanusiaan dibangun atas kesadaran diri bahwa kita juga manusia, tak pernah ada tunduk patuh lagi terhadap siapapun. Semuanya sama.”

Bersambung …

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Khidmat Ikuti Acara di Penghujung Ramadhan 1442 H

Di malam ke-29 ramadan, halaman pondok Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada, dipenuhi ratusan santri yang hendak mengikuti rangkaian acara. Doa Takhtimul Kutub ngaji pasaran,...

Bergiat di Sepertiga Ramadhan

Oleh: Abdul Ghoni Dapat kita hitung bersama, Sepertiga atau 10 hari terakhir di bulan ramadhan ini merupakan pembagian dari tiga fase. Dijelaskan oleh Imam Al...

Kaidah Mencari Lailatul Qadar

Oleh: Abdul Ghoni Sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan, menjadi sangat istimewa bagi mereka yang mendambakan malam Lailatul Qadar. Hal ini tentunya sudah banyak yang...

Fun Brewing Collaboration di Malam Ta’dzim Nuzulul Qur’an

Sejumlah Barista (Peracik Kopi) dari beberapa kedai kopi yang tergabung dalam wadah Seduh`Lur Cirebon Timur, mengadakan Fun Brewing pada Acara Malam Ta’dzim peringatan Nuzulul Quran di Pesantren...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN