Monday, September 20, 2021
Home Inspirasi Ketakdziman Kang Muslih kepada Gurunya

Ketakdziman Kang Muslih kepada Gurunya

Dalam keadaan sakit dan tempuh perjalanan jarak jauh, tak menyurutkan semangat Kang Muslih untuk mendapatkan barokah dari gurunya.


 

KH Moh Muslih mondok di Pesantren Lirboyo selama sekitar tujuh tahun. Di tempat tersebut beliau dididik langsung oleh putra salah satu Pengasuh Pesantren Lirboyo Almaghfurlah Kiai Mahrus. Mulai dari Almaghfurlah Kiai Imam, Kiai Kafabihi, Kiai Zamzam dan Kiai An’im.

Pada tahun 1995 Kang Muslih boyong dari pesantren Lirboyo dan memilih pulang ke kampung halamannya Pesantren Attarbiyyatul Wathoniyah (PATWA). Setahun berikutnya beliau menikah dengan Nyai Hj Yiyin Hayyinah. Tidak mengurangi sifat takdzimnya, sebelum menikah Kang Muslih mengundang guru-gurunya seperti Almaghfurlah Kiai Imam, Kiai kafabihi, Kiai Zamzam dan Kiai An’im.

Setelah menikah, hari-hari beliau adalah mengajar. Mendidik para santri atau siswa Madrasah Tsanawiyah Agama Islam dan Madrasah Aliyah Agama Islam Mertapada. Dengan mengajar membuat beliau mengkaji kembali kitab yang dulu pernah diajar oleh guru-gurunya. Karena mengajar pula, Kang Muslih tidak seperti kacang lupa akan kulitnya. Beliau sering bersowan kepada guru-gurunya. Seperti Almaghfurlah Kiai Imam, Kiai Kafabihi, Kiai Zamzam dan Kiai An’im.

“Ketika berangkat ke pesantren Lirboyo Kang Muslih lebih sering bersowan ke Kiai Imam dan Kiai Kafabihi. Kiai Imam sendiri wafat sekitar tahun 2010,” ujar Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Putra PATWA Ust Agus Abdul Basith yang juga Alumni Pesantren Lirboyo.

Kang Muslih hampir setiap tahun bersowan ke pesantren Lirboyo. Biasanya beliau datang di waktu pesantren Lirboyo mengadakan kegiatan besar. Ataupun sebaliknya, tatkala Kang Muslih mempunyai hajat besar selalu datang langsung ke Pesantren Lirboyo untuk bersowan dan mengundang sekaligus meminta ridho dan doanya.

“Kalau berangkat sowannya bareng saya sih dimulai tahun 2005 lalu, tepatnya ketika putra-putranya Kang Muslih yakni Mas An’im dan Mas Ilham hendak disunat. beberapa bulan berikutnya Kang Muslih dan saya berangkat kembali untuk menghadiri pernikahan putri Kiai Kafabihi yang bernama Mbak Arwa. Setelah itu hampir setiap tahun Kang Muslih dan saya kembali bersowan kepada beliau,” ungkapnya.

Kang Muslih juga pernah beberapa kali sowan ke Pesantren Lirboyo dalam keadaan sakit. Terakhir kali beliau bersowan pada tahun 2019 lalu, tepatnya setelah Hari Raya Idul Fitri. Cukup berani untuk kondisi fisik beliau yang saat itu tengah sakit serius. Beliau masih sempat-sempatnya bersowan ke Pesantren Lirboyo sambil mengikuti pengajiannya.

“Setiap hari Kamis Legi, Kiai Anwar Mansyur membuka pengajian kitab Hikam untuk para alumni. Saat sowan ke Kiai Kafabihi kemarin, Kang Muslih juga menyempatkan waktu untuk ikut mengaji kepada Kiai Anwar,” katanya.

Sowan ke Pesantren Buntet Hingga Larut Malam

Ketakdziman Kang Muslih bukan hanya kepada guru-gurunya sewaktu mondok di Pesantren Lirboyo, tetapi juga kepada para sesepuh Pesantren Buntet. Meskipun Kang Muslih tidak mondok secara langsung di Pesantren Buntet, namun tidak mengurangi sikap takdzim kepadanya sebagaimana kepada Almaghfurlah Kiai Imam, Kiai Kafabihi beserta adik-adiknya.

Maret 2021 lalu adalah salah satu momen spesial bagi Kang Muslih. Pasalnya putri pertama beliau yakni Mbak Siti Aisyah Fadhilah menikah. Kang Muslih pun mengundang banyak tamu. Mulai dari keluarga, guru-gurunya, para sesepuh, kerabat, dewan guru dan alumni PATWA.

Diceritakan Dewan Guru PATWA Ustadz Moh Izzuddin, saat sebelum pernikahannya berlangsung, Kang Muslih mengundang sekaligus meminta doa kepada para sesepuh pesantren Buntet. Mulai dari Kiai Ahmad Mursyidin, Kiai Adib Rofiuddin Izza, Kiai Hasanuddin Kriyani, Kiai Amir Abkari hingga Kiai Wawan Arwani.

Saat itu, kondisi Kang Muslih masih dalam keadaan sakit. Namun saking menjaga adab dan akhlaknya, Kang Muslih sendirilah yang datang langsung ke lokasi kediamannya hingga larut malam. “Saya dan murid saya Abdul Ghoni ikut mengantarkan Kang Muslih mengundang Kiai Mursyidin, Kiai Hasan Kriyani, Kiai Adib, Kiai Amir hingga Kiai Wawan untuk meminta doa dan kehadirannya ke pernikahan Mbak Dilah,” katanya.

Bukan hanya kepada sesepuh Pesantren Buntet. Kang Muslih juga secara pribadi datang langsung ke keluarga besar pesantren Khas Kempek seperti Kiai Mustofa Aqil dan Kiai Ni’amillah Aqil untuk hadir ke lokasi acara dan mendoakan pernikahan putrinya tersebut.

“Bahkan karena Suami Mbak Dilah yang bernama Kang Maki punya ikatan keluarga dengan Kiai Bisri Imam Pesantren Gedongan, Kang Muslih pun datang langsung menemui Kiai Bisri dalam rangka meminta anaknya untuk dinikahkan,” ungkapnya.

Selain itu, Ketakdziman Kang Muslih juga diterapkan kepada para guru PATWA. Seperti yang disampaikan Dewan Guru PATWA lainnya Ust Musta’in. Setiap hari raya Idul Fitri ia bersama teman-temannya selalu diajak Kang Muslih untuk berkeliling sowan kepada guru-guru PATWA. Mulai dari Almaghfurlah Kiai Ghozali, Kiai Chozin, Kiai Hariri, Kiai Nahduddin, hingga Kiai Saefuddin.

“Kepada guru-guru PATWA juga beliau sangat ta’dzim. Saya, Pak Isyam dan temen-teman lainnya seringkali diajak oleh Kang Muslih untuk sowan ke guru-guru PATWA,” pungkasnya.

Penulis : Muiz

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ketakdziman Kang Muslih kepada Gurunya

Dalam keadaan sakit dan tempuh perjalanan jarak jauh, tak menyurutkan semangat Kang Muslih untuk mendapatkan barokah dari gurunya.   KH Moh Muslih mondok di Pesantren Lirboyo...

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, Kang Muslih Wafat

اِنَّا لِلَّهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ Kabar duka datang dari keluarga, dewan guru, santri dan alumni pesantren PATWA. Sesepuh pesantren PATWA KH Moh Muslikh berpulang ke...

Khidmat Ikuti Acara di Penghujung Ramadhan 1442 H

Di malam ke-29 ramadan, halaman pondok Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada, dipenuhi ratusan santri yang hendak mengikuti rangkaian acara. Doa Takhtimul Kutub ngaji pasaran,...

Bergiat di Sepertiga Ramadhan

Oleh: Abdul Ghoni Dapat kita hitung bersama, Sepertiga atau 10 hari terakhir di bulan ramadhan ini merupakan pembagian dari tiga fase. Dijelaskan oleh Imam Al...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN