Thursday, April 22, 2021
Home Inspirasi Jilbab dan Pemahaman Keliru Terhadap Tren Baru

Jilbab dan Pemahaman Keliru Terhadap Tren Baru

Oleh: Siti Nurlaily

Abstrak – Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan sekaligus mengingatkan kembali kepada masyarakat terkhusus remaja muslim Indonesia bahwa tren baru dalam berjilbab tidak semua bisa diadopsi karena alasan syari’at. Sebagian orang yang memakai jilbab mengikuti aturan berbusana dalam Islam, dan juga terpengaruh dengan fashion jilbab yang sedang tren. Jilbab saat ini dimaknai bukan hanya sebagai penutup aurat namun juga sebagai gaya hidup modernitas. Tidak sedikit dari muslimah yang menggunakan jilbab namun mengabaikan tujuan dan substansi dari jibab itu sendiri, dengan dalih penyeseuaian zaman atau kompromisasi atas modernisasi.

Kata Kunci: busana remaja muslim, jilbab remaja muslim, tren baru berjilbab

Apa perbedaan antara jilbab, kerudung, dan hijab? Menyinggung masalah hijab terlebih dahulu kita harus tahu apa itu hijab? Secara istilah jilbab, hijab, dan kerudung adalah penutup bagian tubuh pada wanita yakni kepala. Bagi masyarakat Indonesia terminologi tersebut sering saling menggantikan, terkadang disebut jilbab, lain waktu disebut kerudung, di waktu yang lain disebut hijab. Warga +62 menganggap tiga kata benda tersebut sebagai sebutan yang sama bagi wanita muslim yang menutup kepalanya. Namun, sebenarnya ketiga kata benda tersebut memiliki makna yang berbeda.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia jilbab adalah kerudung lebar yang dipakai wanita muslim untuk menutup kepala dan leher sampai dada. Adapun hijab adalah: 1) dinding yang membatasi sesuatu dengan yang lain; 2) dinding yang membatasi manusia dengan allah; dan 3) dinding yang menghalangi seseorang dari mendapat harta waris. kerudung di sisi lain adalah kain penutup kepala perempuan; cadar.

Dalam bahasa Arab banyak sekali istilah yang digunakan untuk merujuk pada perangkat pakaian wanita yang bervariasi. Beberapa istilah diantaranya adalah Burqu’, ‘Abayah, Tarhah, Burnus, Jellabah, Hayik, Gallabiyah, Gisydasya, Gargush, Gina’ Mungub, Litsma, yashmik, habarah,dan Izar. Beberapa diantaranya merujuk pada muka saja, yaitu Gina’, Burqu’, Niqab, Litsmah. Sedangkan yang lain merujuk pada tutup kepala, yang kadang-kadang digunakan juga untuk menutup sebagian muka, misalnya Khimar, Sitara, ‘Abayah, atau ‘Immah (Guindi, 2003: 31). perbedaan antara jilbab, hijab, dan kerudung adalah sebagai berikut :

Jilbab: berasal dari bahasa Arab yang jamaknya Jalaabiib ( جلباب ج جلإبيب ) artinya pakaian yang lapang atau luas. Pengertiannya adalah pakaian yang lapang dan menutup aurat wanita, kecuali muka dan telapak tangan sampai pergelangan tangan saja yang ditampakkan. Adapun Kerudung: adalah bahasa Indonesia yang bahasa Arabnya Khimaar ( خِمَار ), jamaknya Khumur ( خُمُر ) yang berarti tutup atau tudung yang menutup kepala, leher, sampai dada wanita. Litsam ( لِثَام ) mirip khimar, tetapi hanya mata yang terlihat. Sedangkan Hijab: berasal dari bahasa Arab ( حجاب ), artinya sama dengan Tabir atau dinding/penutup. Pengertian yang dimaksud dari Hijab atau Tabir di sini adalah Tirai penutup atau sesuatu yang memisahkan atau membatasi baik berupa tembok, bilik, gorden, kain, dan lain-lain (Mulhandy, 1992: 5) .

Adapun dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah veil biasa dipakai untuk merujuk pada penutup tradisional kepala, wajah (mata, hidung, atau mulut) atau tubuh wanita. Veil berasal dari kata Latin vela, bentuk jamak dari velum. Makna leksikal yang dikandung kata ini adalah “penutup”, dalam arti “menutupi” atau “menyembunyikan atau menyamarkan”.

Reaksi masyarakat terhadap tren baru penggunaan jilbab

Berjilbab saat ini bukan merupakan hal yang dianggap aneh, justru malah sebaliknya. Pemakaian jilbab bukan hanya cukup banyak tapi juga sudah mewabah dibuktikan dengan mudahnya menemukan perempuan berjilbab. Jilbab sudah menjadi tren dan menjadi fashion bagi perempuan Indonesia saat ini. Lahirnya tren berjilbab di Indonesia tidak lepas dari peran para artis, public figur, dan kaum elit santri. Model jilbab semakin menunjukkan perkembangan yang berbeda, bahwa jilbab saat ini tidak lagi berfungsi sebagai penutup aurat tetapi juga sebagai tren berbusana masa kini.

Zaman yang saat ini memasuki era teknologi komunikasi dan informasi yang cukup pesat (revolusi industri 4.0), membawa banyak perubahan pada gaya atau penampilan berjilbab masyarakat. Hal ini mendorong industri busana muslim menjadi sangat berkembang. Terutama dalam bagian produksi, distribusi, dan konsumen busana muslim itu sendiri. Hal tersebut dibuktikan dengan maraknya penjual busana muslim, mulai dari kalangan biasa sampai para artis terkenal berbisnis hijab yang kemudian menjadi tren masyarakat Indonesia. Para perancang busana di sisi lain mulai khawatir terhadap kelangsungan bisnis mereka dengan mencuatnya pakaian-pakaian syar’i yang terus meluas. Oleh karena itu, pasar busana pun dibanjiri berbagai model dan tren ala tabarruj (berlibih-lebihan dalam berhias), dengan berlabelkan hijab modern.

Perkembangan tersebut pada awalnya sangat dihindari bahkan ditolak di tengah-tengah masyarakat Islam. Sesungguhnya kaum yang kontra terhadap Islam sangat anti dengan kebangkitan Islam. Mereka berupaya keras untuk melenyapkan dan menghapuskan ajaran Islam. Merekalah yang mulai memperkenalkan inovasi dalam berhijab dengan dalih penyeseuaian zaman atau kompromisasi dan modernisasi. Dengan menggunakan tameng kebebasan modernisasi dan toleransi. (Ismail, 2007: 32).

Pemahaman yang Keliru
Berita buruknya, kini tidak sedikit orang yang mengenakan jilbab namun mengabaikan tujuan dan substansi dari berjilbab itu sendiri. Artinya, seseorang berjilbab namun bentuk tubuhnya terlihat, pakaiannya ketat, transparan, terlalu tipis dan sebagainya sehingga mengundang kaum laki-laki sebab sebagian auratnya nampak begitu jelas. Hal tersebut sama saja dengan mengenakan pakaian tetapi telanjang, sesuai dengan hadits Nabi saw. berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a dia berkata: Rasulullah saw. bersabda : “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” – Shahih Muslim nomor 2128, bab al-Libas

Menurut kacamata penulis, tidak sedikit seorang muslim berjilbab lantaran tren berhijab yang semakin modern, banyak yang beranggapan dengan berjilbab membuat mereka semakin modern, merasa lebih trending, terlihat lebih cantik dan lain sebagainya. Hal yang lebih bahaya dari itu semua adalah memiliki sebuah keyakinan bahwa berjilbab bukan karena Allah dan kewajibannya sebagai seorang muslim melainkan hanya sebagai produk budaya. Tidak sedikit orang-orang saat ini mengenakan jilbab ketika di kampus, hendak ke kantor, atau tempat tertentu namun melepasnya ketika di luar aktifitasnya tersebut.

Kita sering menyaksikan, semakin banyak artis dan public figur mengenakan jilbab pada saat bulan ramadhan, meskipun kembali lepas selepas ramadhan. Sebab jilbab saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai penutup aurat ataupun melindungi diri dari panasnya cuaca, tetapi sebagai mode dan gengsi status sosial seseorang (Nasaruddin, 2010: 36). Memang akhir-akhir ini banyak nilai-nilai Islam yang ditinggalkan oleh kaum muslimin dalam masalah etika berpakaian yakni pemakaian jilbab. Banyak faktor yang melatarbelakangi fenomena tersebut bisa disebabkan oleh ketidaktahuan, keraguan, ataupun terbelenggu dalam hawa nafsu.
Sepatutnya kita mencontoh Sayyidah Aisyah r.a istri Nabi saw. dalam mengenakan jilbab. Dikutip dari buku Aisyah: the true beauty, Sulaiman An-Nadawi mengemukakan bahwa Aisyah selalu menunjukkan sikap wara’ dan perhatian yang besar kepada persoalan hijab. Setelah sohabat Umar meninggal dunia dan dikuburkan di rumahnya, Aisyah selalu mengenakan hijab saat berada di sana. Ia berkata sebagai berikut:

“Dulu aku mengunjungi kuburan Rasulallah saw. dan Abu Bakar tanpa mengenakan hijab. Hatiku membatin, “Dua orang ini toh adalah suami dan ayah kandungku”. Tetapi, setelah Umar di kuburkan di sana juga, demi Allah, aku tidak pernah pergi ke sana tanpa mengenakan pakaian lengkapku. Aku merasa malu kepada Umar.” (H.R. Imam Hakim)

Hakikat Berjilbab

Jilbab dalam Islam berakar pada sebuah masalah yang lebih umum dan mendasar, yaitu ajaran Islam bertujuan membatasi seluruh bentuk pemuasan seksual hanya pada lingkungan keluarga dan perkawinan di dalam ikatan pernikahan (Murtadha, 1995: 19). Oleh karenanya, jilbab diwajibkan bagi kaum wanita yang sudah baligh. Hal tersebut berdasarkan perintah Allah yang tercantum dalam Surat Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31, berikut :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al- Ahzab:59)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya : “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An-Nur : 31)

Wanita yang hidup pada zaman dahulu telah diwajibkan berjilbab/berkerudung untuk menjaga kehormatannya, maka terhadap wanita Islam yang hidup pada zaman sekarang sampai akhir zaman nanti akan tetap diwajibkan. (Mulhandy, 1992: 70). Penulis menyaksikan, betapa banyak wanita muslimah yang memakai jilbab tetapi sesungguhnya masih sangat jauh dari aturan yang sebenarnya. Dikutip dari buku Jilbab itu Cahayamu, Muhammad Ibn Ismail al-Muqaddam, memaparkan beberapa syarat-syarat yang wajib dipenuhi dalam berjilbab, yakni :

1. Menutupi seluruh badan wanita
2. Tidak menjadikan jilbab itu sendiri sebagi hiasan
3. Hendaknya terbuat dari kain tebal dan tidak transparan
4. Hendaknya berbentuk lebar, longgar, dan tidak sempit
5. Tidak menyemprotkan parfum dan wewangian lainnya
6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki
7. tidak menyerupai pakaian orang kafir
8. Bukan sebagai pakaian syuhrah (untuk berbangga diri)

Husein Shahab memberikan penjelasan mengenai persyaratan pakaian wanita menurut ajaran Islam, yakni : 1) tebal; 2) tidak mencolok dan menarik perhatian; 3) tidak menyerupai pakaian laki-laki; dan 4) tidak menyerupai pakaian orang-orang non muslim atau kafir (Husein, 1995: 62-65). Adapun batas-batas aurot bagi wanita yang wajib ditutup ialah seluruh tubuh wanita kecuali muka dan telapak tangan sampai pergelangan tangan. Ini berdasarkan hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud.

Hikmah menutup aurat diantaranya ialah pendapat pahala, sebab ia telah melaksanakan perintah yang diwajibkan Allah swt. Bahkan ia mendapat pahala berlipat ganda, karena dengan menutup aurat ia telah menyelamatkan orang lain dari berzina mata. Hikmah selanjutnya adalah sebagai identitas dirinya yang membedakan secara tegas antara wanita beriman dengan wanita lainnya (Huzaemah, 2001: 24) :

قَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Artinya: “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah baligh (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya)”. (HR Abu Dawud)

Keutamaan berhijab adalah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan menjaga Iffah atau kesucian diri (Ismail, 2007: 6). Memang benar bahwa dengan berjilbab wanita muslimat lebih mencerminkan akhlak moral yang mulia secara Islami. Jika hal tersebut belum terwujudkan maka cobalah tinjau kembali jilbabnya atau pribadi orangnya. Dalam hal ini, bukanlah jilbabnya atau kerudungnya yang salah, tetapi orang yang menggunakannya lah yang keliru. Sama halnya dengan sholat, apabila seseorang yang melakukan sholat namun belum dapat mencegah perbuatan yang keji dan mungkar maka bukan sholat itu yang salah, tetapi orangnya lah yang keliru atau sholatnya yang belum sempurna. (Mulhandy, 1992: 109).

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan penulis menyimpulkan bahwa semakin berkembangnya zaman semakin berkembang pula cara seseorang dalam berpenampilan. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pesatnya teknologi informasi, modernitas, gengsi sosial, kebutuhan, dan lain sebagainya. Banyak perempuan berjilbab namun minim pengetahuan substansi dari jilbab itu sendiri yang mengakibatkan ia berjilbab namun belum memenuhi standar syari’at Islam. Oleh karena itu, kita patut memilih dan memilah tren-tren baru mengenai berpakaian. Jangan sampai kita berjibab namun bagian-bagian aurat tertentu menunjukkan lekuk tubuh karena busana yang transparan sehingga masih cukup terlihat sangat jelas. Hal terpenting dari itu, perbaiki niat dalam berpakaian hanya untuk menjalankan perintah-Nya yakni menutup aurat.

* Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Alumni Madrasah Aliyah Agama Islam (MAAI) Tahun 2017/2018, Alumni Madrasah Tsanawiyah Agama Islam (MTs AI) Mertapada Tahun 2013/2014, dan Alumni Madrasah Ibtida’iyyah (MI) Wathoniyah Puteri Tahun 2010/2011

 

2 COMMENTS

  1. Alhamdulillah tulisannya cukup baik dan komplit, dan didalamnya juga sudah banyak mengutip dalil al-qur’an dan hadits yang cukup sesuai, serta beberapa buku kutipan yang cukup terkenal.
    Namun menurut saya pribadi, masih perlu banyak koreksi dalam penyampaian hasil akhirnya, yang menitikberatkan pada false trend berhijab jaman now, tanpa menilik hukum fiqih madzhab yang sangat kompleks serta beberapa pendapat yang berbeda2 didalamnya…. Juga menurut saya tulisan ini masih minim perspektif lain dari sisi pensyari’atannya, dipandang dari lawan jenis. Dan belum memberikan pilihan terbaik, mana yang sebenarnya jilbab yang sesuai syari’ itu.
    Over all, tulisan ini cukup membuat jera para trendsetter yang menghalalkan segala cara untuk menaikkan rating penjualan butiknya, serta membuka mata wanita agar tidak mudaj terbawa trend… 😅👍👍

    • Matur suwun sanget ngangge kritiknya, Pak. Semoga dengan adanya komentar ini mampu menjadikan tulisan2 saya kedepannya menjadi lebih baik lagi 🙏

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ini Jadwal Pemakaman Almarhumah Nyai Hj Umi Salamah

اِنَّا لِلَّهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ Kabar duka datang dari Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada Kulon. Sesepuh PATWA Nyai Hj Umi Salamah pada hari jum’at (2/3/21),...

Pak Hariri, Guru Humoris yang Hobi Berbagi Permen

Oleh: Azeez Naviel Malakian Berbaju batik, berkacamata tebal, dan berpeci hitam. Begitu penampilan yang biasa diterapkan Alm Ust Muhammad Hariri kala mendidik para siswanya. Beliau...

Syiar dan Tradisi Drumband PATWA

Oleh: Azeez Naviel Malakian Drumband merupakan salah satu instrumen yang menjadi magnet sebuah lembaga pendidikan. Khususnya pondok pesantren. Selain berfungsi sebagai hiburan, drumband sebagai media...

Khotmil Qur’an Yayasan PATWA 2021 Bakal Digelar Bulan Depan

Sore itu, Kamis (14/1/2021), ruangan Musholla ‘Langgar’ Yayasan PATWA tampak ramai. Puluhan Wali Santri dan Dewan Guru menggelar rapat bersama tentang pelaksanaan Tasyakkur Khotmil...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN