Thursday, October 28, 2021
Home Inspirasi Ini Pandangan Kiai Saefuddin Tentang Puasa Arafah 9 Dzulhijjah

Ini Pandangan Kiai Saefuddin Tentang Puasa Arafah 9 Dzulhijjah

Pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah, umat Islam disunnahkan untuk berpuasa. Namun, yang paling utama dari puasa sembilan hari tersebut yaitu puasa 9 Dzulhijjah atau biasa disebut dengan puasa Arafah.

Demikian disampaikan oleh Sesepuh Pesantren Attarbiyyatul Wathoniyah (PATWA) Drs. KH Saefuddin M. Mpd, saat Tim Redaksi Media Center mengadakan sowan di kediamannya, Minggu (26/7/20).

Dengan mengutip kitab Durrotun Nasihin, Pak Asep menjelaskan tentang keutamaan puasa Arafah. Pak Asep mengatakan, “Barang siapa berpuasa di tanggal 9 Dzulhijjah, maka puasa tersebut akan dicatat sebagai kafarat bagi segala sesuatu yang yang telah lewat dan yang akan datang”.

Ditinjau dari sejarah, lanjut Pak Asep, terdapat dua peristiwa pada tanggal 9 Dzulhijjah. Pertama, pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa setelah dipisahkan selama kurang lebih 100 tahun karena memakan buah khuldi. Kedua, perintah Allah kepada Nabi Ibrahim berupa janji Nabi Ibrohim tentang menyembelih puteranya yang bernama Nabi Ismail.

Pak Asep memaparkan, pengertian arofah versi Nabi Adam dan Nabi Ibrohim itu berbeda. Arti arofah bagi Nabi Adam dan Siti Hawa yaitu bertemu. Karena nama tempat bertemunya kedua insan tersebut yaitu bumi Arofah, tepatnya di sebuah gunung yang disebut Jabal Rohmah.

Sedangkan arti arofah bagi Nabi Ibrohim yaitu mengetahui. Sebab, pada satu waktu di tanggal 9 Dzulhijjah beliau bermimpi bertemu Allah untuk yang kedua kalinya.

Dalam mimpi tersebut, Allah menagih janji kepada Nabi Ibrahim perihal janjinya yakni “Jika saya memiliki anak, maka anak tersebut akan saya disembelih” Dari situlah Nabi Ibrohim mengetahui bahwa mimpi itu merupakan perintah dari Allah kepadanya, bukan bisikan dari syetan.

Penulis : Zakiyah dan Rohmah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ketakdziman Kang Muslih kepada Gurunya

Dalam keadaan sakit dan tempuh perjalanan jarak jauh, tak menyurutkan semangat Kang Muslih untuk mendapatkan barokah dari gurunya.   KH Moh Muslih mondok di Pesantren Lirboyo...

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, Kang Muslih Wafat

اِنَّا لِلَّهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ Kabar duka datang dari keluarga, dewan guru, santri dan alumni pesantren PATWA. Sesepuh pesantren PATWA KH Moh Muslikh berpulang ke...

Khidmat Ikuti Acara di Penghujung Ramadhan 1442 H

Di malam ke-29 ramadan, halaman pondok Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada, dipenuhi ratusan santri yang hendak mengikuti rangkaian acara. Doa Takhtimul Kutub ngaji pasaran,...

Bergiat di Sepertiga Ramadhan

Oleh: Abdul Ghoni Dapat kita hitung bersama, Sepertiga atau 10 hari terakhir di bulan ramadhan ini merupakan pembagian dari tiga fase. Dijelaskan oleh Imam Al...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN