Thursday, October 28, 2021
Home Inspirasi Hati-hati dengan Hati

Hati-hati dengan Hati

Oleh : Laily Ibrahimma

Polemik mengenai hati sangat sering diperbincangkan, terutama terkait perasaan. Namun berbicara perihal hati, tidak selalu menyoal luka lantaran masalah cinta dan embel-embelnya, hati itu sendiri juga sering menimbulkan masalah. Seperti kondisi psikis seseorang yang terombang-ambing dan tidak menentu, hal ini sering membuat orang tersebut melakukan kesalahan yang mengakibatkan timbulnya masalah.

Kemudian yang menjadi masalah terbesar adalah ketika ia tidak tahu di mana letak masalahnya. Sehingga bila demikian terjadi, semua masalah akan sulit dalam menyelesaikannya. Tetapi pada dasarnya, segala sumber masalah itu ada di dalam diri setiap manusia yaitu hati. Sebelum lebih jauh ke pembahasan, kita perlu mengetahui apa itu hati?

Apa itu Hati?
Seperti yang kita ketahui, hati adalah segumpal daging. Hati sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu, hēpar merupakan sebuah kelenjar terbesar di dalam tubuh manusia yang terletak di dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma (Maulina, 2018). Pada umumnya, kita tidak bisa meraba keberadaan organ ini dari luar tubuh karena terlindungi oleh tulang rusuk.

Dan jika hati diambil dari kata bahasa Arab yaitu qalb, ia mempumyai makna ”Membalik”. Disebut demikan karena sering kali kondisi perasaan seseorang berbolak-balik, terkadang senang, susah, kadangkala setuju, kadang pula menolak. Hati sangat berpotensi untuk tidak konsisten.

Dalam pengertian lain, hati adalah wadah pengajaran, kasih sayang, takut dan keimanan (Saleh dan Wahab, 2005). Dari sini dapat dipahami bahwa, hati merupakan tempat segala hal yang disadari oleh pemiliknya.

Lebih lanjut, Imam Ghazali pada kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan: Hati mempunyai dua aspek yaitu hati dalam pengertin fisik dan metafisik. Hati yang bersifat fisik adalah daging yang terletak di bagian kiri dada dan di dalamnya terdapat rongga yang berisi darah hitam, sedangkan hati yang bersifat metafisik adalah sesuatu yang halus bersifat rabbaniyah (ketuhanan) dan ruhaniyah (kerohanian), hati yang halus itulah yang menjadi hakikat manusia.

Tentara-tentara Hati
Imam Ghozali membagi tentara yang terdapat dalam hati menjadi dua bagian, yakni tentara yang dapat dilihat dengan indera mata dan tentara yang tidak dapat dilihat kecuali dengan penglihatan hati. Namun dalam kesempatan kali ini penulis akan fokus pada tentara yang dapat dilihat dengan indera penglihatan saja. Tentara tersebut adalah tangan, kaki, mata, hidung, lisan, dan anggota-anggota badan lainnya. Secara tabiat, anggota badan tersebut diciptakan untuk patuh kepada hati dan tidak mampu menyalahinya (Ghazali, 1993).

Antara hati dengan anggota badan lainnya, diibaratkan seperti raja dengan prajuritnya. Hati berkedudukan sebagai raja, sedang tangan, kaki, mata, hidung, lisan dan anggota badan lainnya adalah prajuritnya. Apabila hati memerintahkan mata terbuka, maka terbukalah mata, apabila hati memerintahkan kaki untuk bergerak, maka kaki itu bergerak, dan ketika hati memerintahkan lisan untuk berbicara, maka lisan akan berbicara, dan begitu seterusnya dengan anggota-angota badan lainnya.

Peranan hati sebagai struktur jiwa yang paling penting pada manusia adalah mampu memberi kesan kepada jasad manusia. Telah ditekankan dalam hadits sebagai berikut:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah (segumpal daging) itu ialah hati.” (HR. Muslim).

Dapat dipahami bahwa hadits di atas menjelaskan, kehidupan yang dijalani manusia akan menjadi baik dan sesuai dengan fitrah manusia diciptakan, asalkan hati yang dimiliki manusia itu dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Namun demikian, potensi hati sendiri tidak selalu menjadi tingkah laku yang baik. Jika manusia memilih untuk menjaga hatinya selalu baik maka yang ia dapatkan adalah sebuah kebaikan jika ia mimilih untuk membuat hatinya buruk maka yang terjadi ialah hatinya akan buruk.

Hati memegang peranan penting atas perilaku manusia itu sendiri, sebagai pendorong manusia melakukan perbuatan baik atau buruk. Perbuatan yang baik akan menjadikan seorang manusia memiliki hati yang bersih dan suci, sedangkan perbuatan yang buruk akan mendapatkan Bendu ( dalam bahasa Jawa artinya marah) dari Allah SWT. Karena itu, berhati-hati dengan hati dirasa cukup penting.

Siapa sangka, ketidak hati-hatian terhadap hati itu mampu mendekatkan diri terhadap dosa. Meski hanya dosa kecil, namun tetap saja kita tidak boleh meremehkan dosa tersebut seperti pepatah arab yang mengatakan “jangan lihat seberapa kecil kita berdosa, tapi lihatlah pada siapa kita berbuat dosa”, karena bagaimanpun dosa kecil dapat mengantarkan seseorang terperosok ke dalam dosa yang besar.

Menyakiti Sesama Muslim
Allah berfirman dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 58, berikut:
وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَٰنًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (QS Al Ahzab : 58).

Dalam Islam, menyakiti hati sesama muslim adalah perbuatan dosa. Untuk itu jangan sampai menumpuk dosa-dosa kecil ataupun besar dengan menyakiti hati orang lain khususnya saudara kita sesama muslim. Jangan sampai kita menjadi orang yang Allah benci karena kita menyakiti hati saudara kita.

Salah satu hak muslim atas muslim lainnya adalah tidak menyakiti hati sesamanya baik itu dengan perbuatan ataupun perkataan (Ghazali, 1993).

Namun seringkali seseorang melakukan kesalahan dalam berbicara. Disengaja ataupun tidak, perkataan yang terucap dari mulut seseorang dapat menyakiti perasaan orang lain yang mendengarnya. Perlu kita ketahui juga bahwa perkataan yang spontan keluar dari lisan merupakan gambaran dari hati seseorang.

Tidak dapat dipungkiri, dalam keadaan sadar atau tidak, ketika sadar pun sering keceplosan dengan ucapan yang tiba-tiba keluar dari mulut, padahal ucapan tadi memang hal yang sudah lama terbendung di dalam hati. Kejadian ini menggambarkan bahwa hati memang tak bisa dibohongi. Untuk memiliki hati yang bersih harus diupayakan agar ucapan yang meluncur dari lisan terjaga. Lisan yang bersih menjadi cerminan dari hati yang bersih pula.

Drs. K.H. Bahron Fathin, M.A, pengasuh Yayasan Permata Ar-Ridha memberikan pandangannya mengenai seseorang yang berkata kasar adalah dia yang dalam hatinya tidak memiliki perbendaharaan kata yang baik.

Lantas kenapa kita tidak boleh berkata kasar kepada orang lain? Jawabannya adalah karena kita manusia sebagai makhluk Allah yang sempurna dengan kelebihan akal yang dimilikinya.

Wajib hukumnya mengetahui cara memanusiakan orang lain (Muthi, 2019).
Sejalan dengan perbuatan menyakiti orang lain, dalam Q.S. Al-Humazah ayat 1 yang berbunyi :
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (QS. Al-Humazah: 1).

Para ulama menafsirkan makna  هُمَزَةٍ adalah orang-orang yang merendahkan orang lain dengan perbuatan, baik mengisyaratkan dengan tangannya atau matanya atau meniru gerak-geriknya dengan tujuan merendahkan dan lain sebagainya. Sedangkan makna لُّمَزَةٍ adalah orang-orang yang merendahkan orang lain dengan perkataannya. Dan mereka semua diancam dengan kecelakaan yang akan menimpa mereka di akhirat (Haq, 2016).

Hal ini menunjukkan betapa besarnya balasan dari segala sesuatu yang menyakiti orang lain baik dengan perkataan ataupun perbuatan.
Kata-kata memang lebih tajam daripada sebilah samurai para kaisar. Jika menusuk hati orang lain, di mana obat dapat dicari? Karena itu berhati-hatilah dengan lisanmu.

Dengan menjaga lisan, seorang Muslim juga akan terhindar dari dosa. Ketika seseorang menjaga lisannya, maka ia juga menjaga diri dari perbuatan menyakiti seseorang yang akan mendatangkan dosa.
Saat memiliki hati yang bersih, akan berdampak pada lisan yang baik. Ketika orang terbiasa mengucapkan kata-kata baik, tentu perilakunya juga tidak jauh dari yang dilisankan (Noortyani, 2019).

Hati sebagai pemegang kendali atas tentaranya (lisan, mata, telinga, tangan, kaki, dan anggota badan lainnya) bukan tidak mungkin mampu mempengaruhi seseorang dalam bersikap dan berperilaku.
Orang yang berakal dalam bertingkah laku yang baik adalah bila ia melakukan segala sesuatu itu demi esensinya (Miskawaih, 1998).

Artinya berperilaku bukan atas dasar keinginannya tetapi hasil pertimbanagan anatara hati dan akal. Apabila ada seseorang yang berkata “si A baik” maka itu berarti si A memiliki perilaku (dzahir) dan hati (batin) yang baik. Kebaikan dzahir adalah penampilan yang baik, sedang kebaikan batin adalah dominasi dari sifat-sifat terpuji atas sifat-sifat tercela.

Berbicara mengenai sikap dan perilaku, tentu semuanya melibatkan anggota badan. Seseorang yang hatinya bersih akan menjaga perbuatannya dari menyakiti sesamanya dengan hal-hal berikut: Pertama, menjaga matanya dari melihat orang lain dengan pandangan menghina dan menjaga matanya dari melihat aib orang lain. Kedua, menjaga telinga dari mendengar perkataan jahat, perkataan yang sia-sia, dan perkataan yang menyebut-nyebut kejahatan orang lain.

Ketiga, menjaga kedua tangan dari sesuatu yang diharamkan dan tidak menggunakan tangan untuk menyakiti makhluk Allah SWT. serta tidak menggunakan tangan untuk menulis sesuatu yang diharmakan. Salah satu contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah jari kita yang berkeliaran di media sosial, bayangkan berapa banyak orang yang terluka karena ujaran kebencian yang kita tulis dalam medsos. Keempat, menjaga kedua kaki dari berjalan ke tempat yang diharamkan.

Anggota badan tersebut tidak akan dapat bergerak jika hati tidak menginginkan dan otak manusia tidak memprosesnya. Melukai hati sesama merupakan penyakit yang banyak dilakukan oleh sebagian orang tidak peduli siapapun ia dan menyandang gelar apapun, baik yang menyandang gelar talabul ‘ilmi, santri, kiyai, maupun gelar-gelar sakral lainnya. Mari sama-sama berikhtiar untuk terus memperbaiki diri terutama hati, agar menjadi manusia yang mampu memanusiakan manusia.

Semoga Allah meluruskan apa yang bengkok dan memutihkan apa yang hitam atas hati ini. Aamiin Allahumma Aamiin…

 

Daftar Pustaka

1. Maulina, Meutia. 2018. Zat-zat yang Mempengaruhi Histopatologi Hepar. (Sulawesi: Unimal Press).
2. Miskawaih, Ibnu. 1998. Menuju Kesempurnaan Akhlak: Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika. Terjemahan oleh Helmi Hidayat. (Bandung: Mizan).
3. Saleh, Abdul Rahman dan Muhib Abdul Wahab. 2005. Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. (Jakarta:Kencana).
4. Ghazali, Imam. 1993. Ihya ‘Ulumiddin. Terjemahan oleh Moh. Zuhri, Muqoffin Mochtar, dan Muqorrobin Misbah. (Semarang: CV. Asy-Syifa’).
5. Noortyani, Rosma. 2019. Pemilik Hati dan Lisan. Diakses dari
https://kip.kapuaskab.go.id/berita/read/601/pemilik-hati-dan-lisan Pada hari Jum’at, 17 Juli 2020 pada pukul 13.00 WIB.
6. Muthi, Lisa Dewi Dzakiyah. 2019. Jaga Jangan Sampai Jarimu Menyakiti Hati Orang Lain!. Diakses dari https://medium.com/@Lisadewidzakiyahmuthi/jaga-jangan-sampai-jarimu-menyakiti-hati-orang-lain-dfb3c680e09f Pada hari Jum’at, 17 Juli 2020 pada pukul 21.41 WIB.
Haq, Arinal. 2016. Peringatan Untuk Tidak Menyakiti Sesama Muslim. Diakses dari ,
https://www.hisbah.net/peringatan-untuk-tidak-menyakiti-sesama-muslim/ Pada hari Jum’at, 17 Juli 2020 pada pukul 15.52 WIB.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ketakdziman Kang Muslih kepada Gurunya

Dalam keadaan sakit dan tempuh perjalanan jarak jauh, tak menyurutkan semangat Kang Muslih untuk mendapatkan barokah dari gurunya.   KH Moh Muslih mondok di Pesantren Lirboyo...

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, Kang Muslih Wafat

اِنَّا لِلَّهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ Kabar duka datang dari keluarga, dewan guru, santri dan alumni pesantren PATWA. Sesepuh pesantren PATWA KH Moh Muslikh berpulang ke...

Khidmat Ikuti Acara di Penghujung Ramadhan 1442 H

Di malam ke-29 ramadan, halaman pondok Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada, dipenuhi ratusan santri yang hendak mengikuti rangkaian acara. Doa Takhtimul Kutub ngaji pasaran,...

Bergiat di Sepertiga Ramadhan

Oleh: Abdul Ghoni Dapat kita hitung bersama, Sepertiga atau 10 hari terakhir di bulan ramadhan ini merupakan pembagian dari tiga fase. Dijelaskan oleh Imam Al...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN