Thursday, October 28, 2021
Home Inspirasi Opini Hari Santri Nasional Milik Seluruh Elemen Masyarakat

Hari Santri Nasional Milik Seluruh Elemen Masyarakat

Oleh : Mustofa Aqil

Pada tanggal 22 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo mendeklarasikan penetapan Hari Santri Nasional (HSN) di Masjid Istiqlal, Jakarta. Penetapan HSN ini sebagai penghormatan terhadap para santri karena memiliki andil besar dalam proses perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Bila dilihat dari tanggalnya, penetapan Hari Santri Nasional tidak lepas dari peristiwa Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 lalu, yang kemudian digerakkan bersama KH. Wahab Chasbullah, beserta para kyai dan santri yang lainnya.

Peristiwa “Resolusi Jihad” bermula dari pasca kemerdekaan, dimana agresi sekutu mulai kembali ke Indonesia. Sekutu yang dimaksud disini adalah Inggris. Pada saat perang dunia II Inggris memenangkan peperangan tersebut dan akibatnya negara yang dijajah Jepang akan diambil alih oleh Inggris. Namun, pada saat itu Inggris diboncengi oleh Belanda dan Belanda dan berusaha menjajah kembali Indonesia.

Cerita singkat di atas merupakan mukaddimah Hari Santri Nasional, yang kemudian muncul sebuah pertanyaan “Apakah peringatan HSN ini hanya diselenggarakan oleh  Nahdlatul Ulama (NU)? atau selain dari NU berhak memperingatinya?. Mari kita bahas pertanyaan tersebut dari 2 aspek berikut :

Pertama; aspek definisi. Definisi disini penulis akan menggunakan logika variabel, variabel “a” sama dengan “b” dan variabel “b” harus sama dengan “a”, jika variabel “b” tidak sama dengan “a” maka bukan definisi, teori definisi ini terdapat di buku “Madilog” karya Tan Malaka. Mari kita simak kalimat “Nahdlatul Ulama (NU) memperingati Hari Santri Nasional (HSN).” Anggap kalimat “Nahdlatul Ulama (NU)” itu variabel (a) sedangkan kalimat “memperingati Hari Santri Nasional (HSN)” itu variabel (b). Kalimat ini bisa dikategorikan definisi apabila variabel “b” sama dengan varibel “a” maka jadilah kalimat “Hari Santri Nasional (HSN) diperingatkan oleh Nahdlatul Ulama (NU).

Kalimat “Hari Santri Nasional (HSN) diperingatkan oleh Nahdlatul Ulama (NU)” ini, seharusnya variabel “b” (HSN) sama dengan variabel “a” (NU). Tapi apakah hanya NU yang menyelenggarakan HSN ? jawabannya tidak. Ada organisasi islam lain yang juga menyelenggarakan acara HSN ini. https://www.timesindonesia.co.id/read/234860/20191022/153952/nu-muhammadiyah-dan-ldii-kompak-peringati-hsn-2019-di-gresik/ merupakan salah satu link yang meliput acara HSN yang diselenggarakan bukan hanya NU saja, tapi di dalamnya terdapat organisasi islam lainnya, seperti Muhammadiyah dan LDII yang ikut upacara bersama pada tanggal 22 Oktober 2019 silam. Bahkan di dalam link tersebut, acara HSN yang digelar oleh MWC NU Menganti itu mendapat apresiasi dari camat Menganti, Pak Sujarto. Setelah acara peringatan HSN ini dilaksanakan dari semua unsur (NU, Muhammadiyah dan LDII), Pak Sujarto mengharapkan HSN ini tidak hanya dimiliki oleh warga NU semata, melainkan milik semua warga negara.

Kemudian, apakah secara aspek definisi, kalimat “Nahdlatul Ulama (NU) memperingati Hari Santri Nasional (HSN)” itu gagal, karena variabel “b” nya tidak harus sama dengan variabel “a”. Jawabannya, tidak gagal juga, karena dalam teori definisi, berlaku exception atau pengecualian. Organisasi islam yang menyelenggarakan Hari Santri Nasional (HSN) merupakan pengecualian dari variabel “a” (NU). Selain dari exception, dalam teori definisi berlaku juga essential attributes atau atribut penting, essential attributes juga bisa dikatakan ciri khas dari varibel tersebut. Variabel “b” (HSN) merupakan essential attributes dari variabel “a” (NU). variabel “b” dikatakan essential attribute dari variabel “a” itu dilihat dari aspek berikutnya.

Kedua; aspek science atau ilmu pengetahuan. Sesuatu yang dikatakan ilmu pengetahuan itu terdiri dari beberapa unsur, salah satunya adalah : 1. Fact atau Bukti, bukti merupakan hal paling mendasar dari suatu ilmu pengetahuan, jika variabel “b” (HSN) merupakan essential attribute dari variabel “a” maka perlu bukti yang  konkrit untuk mengungungkapkan bahwasanya variabel “b” merupakan essential attribute dari variabel “a”. Bukti disini bisa dalam bentuk dokumen, catatan sejarah, foto, dls., dalam beberapa catatan dan atau narasi sejarah banyak menceritakan bahwasanya HSN ini dideklarasikan untuk mengenang perjuangan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari yang menggagas “resolusi jihad”, catatan demikian juga ditulis di link https://www.suaramuhammadiyah.id/2015/12/03/seputar-hari-santri/. Di dalam link tersebut PP Muhammadiyah mengatakan : “Demikian halnya dengan penetapan 22 Oktober sebagai HSN sangat ekslusif hanya untuk mengenang dan menghargai peristiwa satu golongan. Tanggal tersebut dipilih sebagai peringatan “Resolusi Jihad” tahun 1945 yang diprakarsai KH Hasyim Asy’ari dan kaum Nahdliyin.”

Setelah fact, kemudian ilmu pengetahuan juga terdiri dari law atau hukum. Hukum yang dimaksud disini merupakan satu kesatuan bukti yang menjadi wujud tersendiri. Misalnya oksigen (bukti 1) ditambah hidgrogen (bukti 2) jika digabungkan maka jadilah air, begitu pula dalam kasus variabel “b” (HSN) dikatakan essential attribute dari variabel “a” (NU) itu perlu bukti-bukti yang kuat hingga jadilah HSN. Bukti yang pertama yaitu dari catatan sejarah yang telah ditulis di atas, kemudian bukti berikutnya yaitu dari tokoh yang dikenang sebab menggagas “resolusi jihad” yakni Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, beliau merupakan pendiri dari organisasi islam Nahdlatul Ulama (NU).

Artinya, acara HSN ini boleh diselenggarakan oleh elemen atau organisasi manapun, karena memang yang mendeklarasikan yaitu Presiden Joko Widodo, pemimpin yang ruang lingkupnya adalah nasional. Akan tetapi, HSN ini merupakan essential attribute NU itu sendiri. Dilihat dari segi sejarah, penggagas perayaan HSN ini juga mayoritas dari kalangan NU.

Wallahu’alam..

Penulis adalah Alumni MI Wathoniyah Putra Mertapadakulon (2009), Alumni MTs AI Mertapada (2012), Alumni MAAI Mertapada (2015), dan Alumni IAIN Syekh Nurjati (2020)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ketakdziman Kang Muslih kepada Gurunya

Dalam keadaan sakit dan tempuh perjalanan jarak jauh, tak menyurutkan semangat Kang Muslih untuk mendapatkan barokah dari gurunya.   KH Moh Muslih mondok di Pesantren Lirboyo...

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, Kang Muslih Wafat

اِنَّا لِلَّهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ Kabar duka datang dari keluarga, dewan guru, santri dan alumni pesantren PATWA. Sesepuh pesantren PATWA KH Moh Muslikh berpulang ke...

Khidmat Ikuti Acara di Penghujung Ramadhan 1442 H

Di malam ke-29 ramadan, halaman pondok Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada, dipenuhi ratusan santri yang hendak mengikuti rangkaian acara. Doa Takhtimul Kutub ngaji pasaran,...

Bergiat di Sepertiga Ramadhan

Oleh: Abdul Ghoni Dapat kita hitung bersama, Sepertiga atau 10 hari terakhir di bulan ramadhan ini merupakan pembagian dari tiga fase. Dijelaskan oleh Imam Al...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN