Thursday, October 28, 2021
Home Inspirasi Essai Catatan Alumni: Pengalaman Belajar Ngaji Al-Qur'an di PATWA

Catatan Alumni: Pengalaman Belajar Ngaji Al-Qur’an di PATWA

Oleh: Abdul Mu’izz

Tidak ada di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Begitu dalih banyak orang saat ditanya soal momen yang pernah dialaminya. karenanya, jangan sia-siakan kesempatan yang datang pada dirimu. Barangkali berharga, biar bisa menjadi momentum dalam kehidupan.

Saya kerap bersyukur dapat berkesempatan belajar ngaji Al-Qur’an di pondok Pesantren Attarbiyyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada. Apalagi sampai Qiro’at Ibnu Katsir. Saat itu juga, saya selalu mengingat jasa guru-guru ngaji saya.

“Disini saya dididik dengan penuh ketelatenan dan keikhlasan. Mengaji Al-Qur’an, Kitab Kuning dan Amaliyah Nahdlatul Ulama sudah menjadi agenda rutin harian. Menjadi santri yang bermanfaat bagi masyarakat selalu menjadi anjuran”

Kali pertama saya belajar ngaji Al-Qur’an di pondok ini yaitu saat masih berseragam Raudhatul Athfal (RA) PATWA. Saat itu, saya banyak dibimbing oleh, diantaranya Ibu Nyai H Yiyin Hayyinah dan Ibu Fatimah. Mungkin, waktu itu saya belum mengerti akan pentingnya bisa membaca Al-qur’an, namun perasaan orang tua senang bukan kepalang.

Memasuki Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Wathoniyah Putra, saya belajar Iqro’ dan Juz’amma kepada Ustadz Saefuddin. Mulanya saya diuruk hanya satu baris, tapi dikoreksi habis oleh beliau.

Usai khatam Juz’amma, pria yang akrab disapa Pak Pudin itu meminta saya untuk mengaji Al-Qur’an Qiro’at Khafs kepada KH ‘Ashomuddin. Dari situ, saya merasa seperti mendapat tantangan baru untuk lebih aktif lagi. Apalagi lingkaran pengajian tersebut dipenuhi oleh teman-teman yang secara usia lebih dewasa dari saya.

Mengaji kepada KH ‘Ashomuddin juga membuat energi saya harus dimaksimalkan lagi. Saya harus lebih fokus mendengarkan lantunan ayat alqur’an yang dibacakan oleh beliau untuk kemudian saya bacakan. Saya ingat betul, kala itu, tidak cukup satu, dua bahkan tiga hari diajar surat Al-Fatikhah oleh beliau. Ya, hal itu karena ketegasan dan ketelatenan beliau dalam menguruk para santrinya.

Belum sampai khatam Qiro’at Khafs, Kang ‘Ashom sapaan akrabnya, berpesan kepada saya untuk pindah belajar ngaji kepada Ayahnya, Alm Almaghfurlah KH Sholeh Ma’mun.

Saat itu, Kang Saleh panggilan akrabnya, sudah sangat sepuh, namun kondisinya masih terlihat sehat. Perawakannya tinggi dan tegak: selalu memakai baju putih, sarung diatas mata kaki, seringkali mengenakan udeng-udeng putih, dan membawa tasbih saat menguruk para santrinya.

Tak mau berlama-lama memutuskan, saya yang saat itu masih duduk di bangku kelas 6 MI langsung menyanggupi pesan Kang Ashom tersebut. Saya belajar ngaji kepada Alm Almaghfurlah Kang Saleh di waktu Ba’da Maghrib sampai Isya, sama seperti saat mengaji kepada pak Pudin dan Kang ‘Ashom sebelumnya.

Saya kerap tak percaya bisa belajar ngaji Al-Qur’an kepada Alm Almaghfurlah Kang Saleh. Ketika diuruk, tak jarang keringat dingin saya keluar, karena ketajaman pendengaran beliau mengamati bacaan saya, meskipun sambil menguruk santri-santri yang lain. Kepada beliau Qiro’at Khafs berhasil saya khatamkan.

Ketika sampai di pertengahan Qiro’at Wars, kabar duka menghampiri keluarga, dewan guru, alumni dan santri PATWA. Di waktu itu, Alm Almaghfurlah Kang Saleh yang juga merupakan sesepuh PATWA berpulang ke Rahmatullah. “Innalilahi wa Inna Ilaihi Roji’un”

Lalu, selepas kepulangan beliau, saya meneruskan belajar ngaji Qiro’at Wars hingga Ibnu Katsir kepada Kang Ashom. Tahun 2013 saya khatam Qiro’at Wars. Di tahun berikutnya, saya berhasil khatam Qiro’at Ibnu Katsir. Perasaan tentu senang bukan kepalang.

Hal lain yang tak kalah meyenangkannya adalah melihat dokumentasi saya dan teman-teman saya saat mengikuti acara Khotmil Qur’an Qiro’at Wars’ tahun 2013 dan Qiroat Ibnu Katsir tahun 2014 masih tersimpan dengan utuh. “Alhamdulilah.. “


*Penulis adalah Alumni MI Wathoniyah Putra Mertapadakulon (2009), Alumni MTs AI Mertapada (2012), dan Alumni MAAI Mertapada (2015)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Ketakdziman Kang Muslih kepada Gurunya

Dalam keadaan sakit dan tempuh perjalanan jarak jauh, tak menyurutkan semangat Kang Muslih untuk mendapatkan barokah dari gurunya.   KH Moh Muslih mondok di Pesantren Lirboyo...

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, Kang Muslih Wafat

اِنَّا لِلَّهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ Kabar duka datang dari keluarga, dewan guru, santri dan alumni pesantren PATWA. Sesepuh pesantren PATWA KH Moh Muslikh berpulang ke...

Khidmat Ikuti Acara di Penghujung Ramadhan 1442 H

Di malam ke-29 ramadan, halaman pondok Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada, dipenuhi ratusan santri yang hendak mengikuti rangkaian acara. Doa Takhtimul Kutub ngaji pasaran,...

Bergiat di Sepertiga Ramadhan

Oleh: Abdul Ghoni Dapat kita hitung bersama, Sepertiga atau 10 hari terakhir di bulan ramadhan ini merupakan pembagian dari tiga fase. Dijelaskan oleh Imam Al...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN