Wednesday, August 4, 2021
Home Bahtsul Masa'il Bahtsul Masail Virtual PATWA Dimulai Lagi, Berikut Permasalahannya

Bahtsul Masail Virtual PATWA Dimulai Lagi, Berikut Permasalahannya

Deskripsi Pertanyaan :

Berqurban merupakan suatu kegiatan ibadah yang dilaksanakan oleh setiap muslim (yang mampu) untuk melaksanakannya, mempunyai nilai-nilai dasar untuk menghilangkan sifat-sifat kebinatangan pada setiap diri manusia sekaligus memberikan shodaqoh kepada setiap muslim yang lain. Terlepas dari itu dalam pelaksanaannya seringkali terjadi beberapa hal tak terduga yang berpotensi mempengaruhi keabsahan ibadah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan syari’at islam. Pak sarto misalnya, beliau membeli hewan qurban yang utuh namun pada pagi hari ketika akan disembelih telinga hewan sobek dan ekornya pun putus sehingga membuatnya kebingungan. Lain halnya dengan Pak Khoirun, ketika sedang menyembelih hewan qurban alat (golok) yang digunakan terlepas pada saat mengeksekusi padahal hewan qurban tersebut sekaligus diperuntukan membadali orang tuanya yang sudah meninggal.

Pertanyaan :
1. Ketika memesan hewan qurban utuh yang akan di sembelih, namun paginya ada yang cacat (ekor dan telinganya hilang) Apakah binatang tersebut masih diperbolehkan untuk qurban?
2. Apa tindakan yang dilakulan Ketika sedang menyembelih alat yang digunakan terlepas, sedangkan proses menyembelih masih belum tuntas?
3. Bolehkah membadali berqurban untuk orang yang sudah meninggal?

7 COMMENTS

  1. Assalamu’alaikum warokhmatullahi wabarokatuh ..
    Bahtsul Masa’il Virtual PATWA sudah dimulai, dipersilahkan untuk para musyawirin untuk saling menanggapi di kolom komentar ..

  2. Untuk jawaban nomer satu min sementara :

    1. Jika Qurban sunah dengan hewan cacat (walaupun cacatnya waktu penyembelihan) maka hukumnya TIDAK SAH dan tidak mencukupi menurut pendapat Ashoh, namun menurut Imam As Subkiy : SAH dan mencukupi berkurban dengan hewan yang cacatnya waktu penyembelihan.

    فلو كانت سليمة فاضطربت عند إضجاعها للذبح فانكسرت رجلها… لم تجزئ على الاصح ، واختار الشيخ إجزاءها

    Dan jika cacatnya pada Qurban Wajib / Nadzar waktu menyembelih, alias waktu nadzar dalam keadaan selamat dari cacat maka SAH dan mencukupi buat qurbannya.

    أما لو نذر معيبة فضحى بها أو قال: جعلتها أضحية فإنها تتعين ويجب ذبحها وقت الأضحية وتفرقة جميع لحمها ولا تجزئ عن الأضحية المطلوبة شرعا، بخلاف السليمة المنذورة.
    نعم لو نذر سليمة ثم عرض العيب فالظاهر الإجزاء عن الأضحية

  3. Baik terimakasih, barangkali ada alternatif jawaban lain atau sama dengan kang mas yang diatas. Monggo post di kolom komentar.

  4. Izin masuk bang moderator.
    Sekilas menjawab pertanyaan nomor 1 soal kecatatan ekor dan telinganya hilang.
    Hematku, itu dapat disamakan dengan hewan kurban yang kakinya pincang ketika dijatuhkan pada saat ingin disembelih. Ini salah satu dari yang menyebabkan hewan tidak sah dijadikan qurban.

    Hal tersebut saya dapatkan pada catatan pas penjelasan ngaji fathul qarib. Dan untuk ta’birnya masih dicari. 😁 hehe

    Atau barangkali ada yang mau menambahkan, mangga. 😅

  5. Oke baik terimakasih, menguatkan jawaban pendapat Ashoh yang telah dipaparkan sebelumnya oleh kang maysar diatas brarti ya.

    Teruntuk ta’bir bisa menyusul, berlaku untuk siapapun yang ingin bergabung dan berkomentar, dalam rangka pembelajaran bersama saling mengeluarkan pendapat sedikit ataupun banyak menjadikan kegiatan Bahtsul Masa’il Virtual ini jauh lebih produktif dan menyenangkan.

    Jadi, mari ikut bergabung dan jadikan pengetahuan yang kita miliki dapat bermanfaat bagi diri kita dan orang lain.

    Monggo pendapat lain yang menguatkan atau malah menyangkal dari jawaban yang sudah ada di atas ..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, Kang Muslih Wafat

اِنَّا لِلَّهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ Kabar duka datang dari keluarga, dewan guru, santri dan alumni pesantren PATWA. Sesepuh pesantren PATWA KH Moh Muslikh berpulang ke...

Khidmat Ikuti Acara di Penghujung Ramadhan 1442 H

Di malam ke-29 ramadan, halaman pondok Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) Mertapada, dipenuhi ratusan santri yang hendak mengikuti rangkaian acara. Doa Takhtimul Kutub ngaji pasaran,...

Bergiat di Sepertiga Ramadhan

Oleh: Abdul Ghoni Dapat kita hitung bersama, Sepertiga atau 10 hari terakhir di bulan ramadhan ini merupakan pembagian dari tiga fase. Dijelaskan oleh Imam Al...

Kaidah Mencari Lailatul Qadar

Oleh: Abdul Ghoni Sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan, menjadi sangat istimewa bagi mereka yang mendambakan malam Lailatul Qadar. Hal ini tentunya sudah banyak yang...

Recent Comments

Rohmah on ALAM BERNYANYI
Rohmah on ALAM BERNYANYI
Bang Syatori on MEMBUMIKAN TUHAN
Suheli on MEMBUMIKAN TUHAN